Keluarga besar Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tengah dirundung duka yang mendalam atas kepulangan sosok seniman besar tanah air. Putra bungsu Sang Proklamator, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, dilaporkan telah tutup usia.
Kabar duka tersebut datang dari Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakarta tempat almarhum menjalani perawatan. Tokoh seni legendaris ini mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu pagi pukul 04.16 WIB di usia 73 tahun.
Berpulangnya sang maestro menciptakan rasa kehilangan yang sangat besar bagi dunia seni budaya nasional. Banyak kenangan indah serta warisan karya berharga yang ditinggalkan oleh almarhum untuk generasi penerus bangsa.
Kabar Duka Dari Rumah Sakit
Penanganan medis intensif sempat diberikan oleh tim dokter sebelum beliau dinyatakan meninggal dunia. Rumah sakit ternama di kawasan Semanggi menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sang tokoh.
Kepergian almarhum meninggalkan kepedihan mendalam bagi sanak keluarga beserta seluruh masyarakat Indonesia. Doa dan ungkapan duka mengalir deras mengiringi kepergian kreator seni berpengaruh tersebut.
Kenangan Kebersamaan Bersama Soraya Haque
Unggahan foto kenangan dibagikan oleh peragawati senior Soraya Haque tepat sehari sebelum peristiwa duka terjadi. Unggahan di media sosial tersebut memperlihatkan rekam jejak hubungan dekat yang terjalin selama puluhan tahun.
Awal mula perkenalan kedua pihak tercipta sewaktu orang tua mereka berada di dalam penerbangan ibadah haji tahun 1978. Ibu Fatmawati Soekarno kemudian mengajak Soraya serta Marissa Haque bergabung ke Swara Maharddhika.
“Siapa sangka, sebuah pertemuan di udara pada tahun 1978 menjadi bagian dari cerita panjang kehidupan saya di Swara Maharddhika,” tulis Soraya Haque dikutip Tribun Style dari akun Instagram @sorayahaque pada Sabtu (25/9/2026).
Proses Pembentukan Karakter Dan Mental
Penggemblengan dalam kelompok seni yang dipimpin almarhum memberikan pengaruh luar biasa terhadap perjalanan hidup Soraya Haque. Pengalaman berharga tersebut didapatkan sejak dirinya masih menginjak usia remaja.
- Penggemblengan mental kepemimpinan dan pembentukan karakter pantang menyerah.
- Penanaman kecintaan mendalam terhadap warisan kebudayaan Nusantara.
- Pembentukan selera tinggi serta standar estetika dalam karya pertunjukan.
- Penanaman jiwa nasionalisme yang kuat melalui ekspresi seni panggung.
“Ini kehebatan Guruh Soekarno sebagai pemimpin, pelatih sekaligus mentor para anak-anak muda,” tulis Soraya.
Nasihat Berharga Sang Legenda Seni
Petuah penuh makna dari sang mentor terus diingat dan dijadikan pegangan hidup hingga saat ini. Kalimat dorongan tersebut menjadi pemicu semangat untuk terus berkarya serta memberikan dampak positif.
“Ada satu kalimat yang terus nempel di kepala saya, ‘suatu saat nanti siapa pun orangnya, dibidang apa pun, dia akan menjadi seseorang yang memimpin dan berbeda.'”
Momen Perpisahan Terakhir Dan Rencana Diskusi
Momen pertemuan terakhir antara Soraya Haque dan sang maestro terjadi pada tanggal 27 Agustus 2026. Pertemuan fisik tersebut berlangsung saat peresmian kelompok paduan suara Swara Maharddhika.
Sebuah rangkulan hangat disertai bisikan pesan mengenai pelestarian kebudayaan disampaikan almarhum pada momen itu. Rencana diskusi mengenai busana tradisional perempuan Indonesia menjadi perbincangan terakhir yang belum sempat diwujudkan.
“Terakhir, kami bertemu tanggal 27 Agustus 2026 saat MC acara peresmian paduan suara SM, kami berfoto bersama ia memeluk dan berbisik, ‘terima kasih, Aya kalau sudah tidak sibuk saya mau diskusi sama kamu tentang perempuan Indonesia dan konde (yang mulai ditinggalkan). Kapan kita bisa seperti perempuan Jepang dengan kimononya?’.”