Dunia seni dan perancangan busana tanah air kembali diselimuti duka mendalam. Seniman multi-talenta Guruh Soekarnoputra dikabarkan telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 73 tahun. Kepergian sosok legendaris tersebut meninggalkan rasa kehilangan yang amat besar bagi masyarakat Indonesia. Salah satu tokoh yang merasakan duka mendalam adalah desainer kenamaan Anne Avantie.
Perancang busana asal Semarang tersebut sempat menyimpan optimisme tinggi terkait kondisi kesehatan sang mentor. Namun, takdir berkata lain hingga kabar kepergian sang maekstro akhirnya diterima oleh pihak keluarga dan kerabat.
Duka Anne Avantie
Desainer Anne Avantie merasa sangat kehilangan setelah mendengar kabar Guruh Soekarnoputra berpulang. Ia sempat optimis bahwa seniman multi-talenta yang juga mentornya itu bakal sembuh.
Rasa duka yang mendalam dirasakan karena Guruh memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidup sang perancang. Kepergian sang maestronya meninggalkan kenangan indah yang tak pernah terlupakan.
Kiriman Gudeg Terakhir
Saat mendengar Guruh sakit bulan lalu, Anne yang kini lebih fokus berkiprah di bisnis kuliner sempat mengirim gudeg buatannya. Santapan tersebut dikirim sebagai bentuk perhatian serta dorongan semangat agar sang sahabat dapat segera pulih.
Pemberian hidangan tradisional khas tersebut ternyata memberikan respon positif bagi kondisi almarhum. Momen sederhana ini menjadi kenangan manis terakhir yang diingat oleh sang desainer.
“Ternyata beliau makan gudegnya sampai habis. Padahal sebelumnya, nggak mau makan sama sekali,” ungkap Anne kepada Wolipop, Sabtu (26/9/2026), tak lama setelah Guruh dikabarkan meninggal.
Bukti Rekaman Video
Anne yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah, kemudian mendapat kiriman video yang memperlihatkan putra presiden pertama RI, Ir. Soekarno, itu menyantap gudeg tersebut. Selain gudeg, kiriman dari Anne juga termasuk sambal petai, sambal krecek, dan kue sisir.
Rekaman momen tersebut menjadi pengobat rindu sekaligus bukti kehangatan hubungan antarseniman. Perhatian tulus yang diberikan memberikan penghiburan tersendiri bagi keluarga almarhum.
Awal Perjumpaan Karier
Guruh yang wafat dalam usia 73 tahun dikenal sebagai seorang koreografer, pencipta lagu, sekaligus perancang. Pertemuan pertama Anne dengan Guruh terjadi puluhan tahun lalu saat masa muda. Saat duduk di bangku SMP, ia ia terlibat dalam Sanggar Tari Soerya Soemirat yang dipimpin Guruh untuk membantu menyiapkan kostum penarinya.
Pengalaman mendampingi proses kreatif sang maestro menjadi fondasi awal dalam mengasah bakat merancang. Kesempatan tersebut memicu tekad kuat untuk terus mendalami bidang tata busana hingga sukses.
“Jadi banyak orang nggak tahu, dan memang jarang saya ungkapkan. Sebetulnya cikal bakal saya jadi desainer itu berawal dari panggung tari,” kata perancang yang dikenal berkat kabaya modifikasi rancangannya.
Sosok Panutan Besar
Di mata Anne, sosok Guruh seperti seorang panutan yang selalu menyertai kariernya. Hampir di setiap peragaan desainer asal Semarang, Jawa Tengah, ini, lagu-lagu ciptaan Guruh seperti ‘Melati Suci’ dan ‘Zamrud Khatulistiwa’ setia mengalun untuk mendampingi langkah para model di catwalk.
Karya musik ciptaan almarhum selalu memberikan aura keindahan dalam setiap peragaan karya perancang. Pengaruh besar almarhum akan terus hidup dalam ingatan serta karya seni Indonesia.