Dunia seni dan politik Tanah Air tengah diselimuti rasa duka mendalam. Seniman sekaligus budayawan senior Indonesia, Guruh Soekarnoputra, dikabarkan meninggal dunia pada 26 September 2026 pada usia 73 tahun.
Kepergian sosok maestro seni tersebut meninggalkan kenangan mendalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya keluarga besar Proklamator RI, Bung Karno. Salah satu figur penting yang merasakan kehilangan tersebut adalah sang kakak kandung, Megawati Soekarnoputri.
Kedua tokoh bangsa ini memiliki perjalanan hidup yang sangat berwarna dan saling melengkapi. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai fakta hubungan antara Megawati Soekarnoputri dan mendiang Guruh Soekarnoputra semasa hidupnya.
Fakta #1 Saudara Kandung
Megawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra merupakan dua dari lima putra-putri pasangan Presiden Pertama RI Soekarno dan Ibu Fatmawati. Di dalam silsilah keluarga, Megawati terlahir sebagai anak kedua, sedangkan Guruh merupakan anak kelima sekaligus putra bungsu.
Meskipun memiliki rentang usia yang lumayan jauh, ikatan persaudaraan di antara keduanya sangat erat. Bersama Guntur, Rachmawati, dan Sukmawati, mereka menghabiskan masa kecil dan tumbuh besar bersama dalam lingkungan keluarga istana.
Hubungan persaudaraan tersebut tetap terjalin amat erat hingga keduanya menginjak usia dewasa. Meski Guruh memilih mendedikasikan hidupnya sebagai budayawan dan Megawati fokus di panggung politik, kasih sayang kakak-adik ini tidak pernah pudar.
Fakta #2 Pernah di Partai Politik Sama
Di luar ikatan darah sebagai kakak dan adik, fakta hubungan keduanya juga terajut dalam arena politik nasional. Guruh Soekarnoputra tercatat pernah terjun langsung ke panggung politik praktis di bawah naungan PDI Perjuangan.
Ia bahkan dipercaya menduduki kursi anggota DPR RI selama beberapa periode. Keterlibatan ini membuktikan bahwa Guruh tidak hanya piawai merangkai karya seni, tetapi juga memiliki kepedulian yang besar terhadap tata kelola negara.
Sementara itu, Megawati Soekarnoputri merupakan figur kunci sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan. Keduanya kerap bahu-membahu dalam wadah partai yang sama, di mana Guruh sukses membawa warna seni dan budaya ke dalam perjuangan politik sang kakak.
Fakta #3 Jaga Warisan Pemikiran Bung Karno
Tumbuh sebagai anak dari sang Proklamator menjadikan Megawati dan Guruh memiliki tanggung jawab moral untuk merawat ajaran sang ayah. Keduanya dikenal sangat konsisten dalam menjaga gagasan serta warisan sejarah Bung Karno.
Guruh mengekspresikan pemikiran kebangsaan sang ayah lewat pementasan seni, aransemen musik, dan karya tarian megah. Di sisi lain, Megawati terus menyuarakan pentingnya memegang teguh Pancasila serta ajaran Bung Karno dalam forum-forum nasional.
Bentuk dedikasi nyata keduanya terhadap warisan sang ayah dibuktikan pada tahun 1976. Saat itu, Megawati dan Guruh secara bersama-sama mendirikan Yayasan Bung Karno demi melestarikan sejarah perjuangan sang Proklamator bagi generasi penerus.
Fakta #4
Meskipun sama-sama memikul nama besar Soekarno, Megawati dan Guruh memilih jalan karier yang berbeda di ruang publik. Megawati mengukir namanya sebagai salah satu tokoh politisi paling berpengaruh di Indonesia.
Sebaliknya, Guruh sudah menunjukkan bakat seni yang luar biasa sejak usia belia. Berdasarkan data Arsip Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan, Guruh telah mempelajari seni tari sejak kecil hingga berhasil mendirikan kelompok kesenian terkemuka Swara Mahardhika pada 1977.
Perbedaan fokus karier ini justru menjadi fakta hubungan yang unik dan harmonis. Keduanya berhasil mengharumkan nama keluarga Soekarno dari dua sudut pandang berbeda, yakni diplomasi politik dan kebudayaan.
Fakta #5
Saat Guruh Soekarnoputra menghembuskan napas terakhirnya pada 26 September 2026, Megawati langsung terbang dari Manado menuju Jakarta. Kehadirannya tersebut demi mengantarkan sang adik tercinta menuju peristirahatannya yang terakhir.
Prosesi pemakaman berlangsung penuh haru di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Jenazah Guruh dimakamkan secara berdampingan dengan makam sang ibu, Fatmawati.
Megawati bersama Sukmawati Soekarnoputri terlihat menaburkan bunga dan mengucurkan air mawar di atas pusara Guruh. Momen tersebut menjadi penghormatan dan kasih sayang terakhir seorang kakak kepada adik bungsunya yang telah berpulang.