Potensi bencana alam akibat aktivitas lempeng tektonik kembali menjadi sorotan masyarakat di seluruh tanah air. Pertanyaan mengenai kapan terjadi gempa megathrust yang berpotensi memicu guncangan dahsyat hingga tsunami masih terus bergulir di tengah kepanikan publik.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Supartoyo memberikan tanggapan resmi terkait dinamika tersebut. Pernyataan ini disampaikan melalui video yang diunggah oleh akun ESDM di Instagram pada Minggu (27/9).
Kejadian bencana geologi tersebut hingga saat ini belum dapat diprediksi secara akurat oleh para pakar. Teknologi yang ada saat ini baru mampu memetakan Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) serta Kawasan Rawan Bencana Tsunami.
Prediksi Waktu Bencana Belum Mampu Ditentukan
Penentuan waktu pasti mengenai kapan terjadi bencana gempa bumi belum dapat dijawab oleh teknologi ilmiah yang ada saat ini.
Kejadian gempa bumi hingga saat ini belum dapat diramalkan mengenai kapan, di mana, dan berapa besar guncangannya. Berbagai metode penelitian yang dikembangkan oleh para ahli sampai sekarang belum memberikan hasil yang menggembirakan.
Pemetaan Wilayah Rawan Bencana Sebagai Mitigasi
Badan Geologi telah menerbitkan peta kawasan rawan sebagai panduan utama dalam melakukan penataan ruang dan mitigasi bencana.
Meskipun tanggal pasti kapan terjadi gempa belum dapat dipastikan, identifikasi wilayah rawan bencana gempa bumi dan tsunami sudah berhasil dilakukan. Peta rujukan ini dirilis guna meminimalkan dampak risiko kerugian fisik maupun korban jiwa.
Pengertian Dan Karakteristik Utama Megathrust
Zona megathrust merupakan area penunjaman dua lempeng tektonik berbeda jenis pada kedalaman kurang dari 50 kilometer.
Istilah ini merujuk pada patahan naik yang berpotensi menghasilkan guncangan besar dengan magnitudo 8 atau lebih. Contoh nyata dari aktivitas ini adalah gempa bumi di Aceh pada tahun 2004 dan Gempa di Pulau Nias pada tahun 2005.
Sebaran Area Rawan Dan Seismic Gap
Dua zona megathrust di Indonesia saat ini berada dalam status seismic gap yang siap melepaskan energi besar.
Mantan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut zona Mentawai-Siberut dan Selat Sunda sudah ratusan tahun tidak melepaskan energinya. Wilayah penunjaman lempeng ini tersebar dari barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga utara Sulawesi dan Halmahera.
Peningkatan Edukasi Masyarakat Hindari Kepanikan
Pemahaman masyarakat mengenai fenomena megathrust harus ditingkatkan agar tidak terjebak dalam kepanikan yang berulang.
Isu megathrust yang muncul sejak peristiwa di Aceh pada tahun 2004 kerap kali menimbulkan kecemasan publik secara terus-menerus. Peningkatan pengetahuan literasi bencana menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman geologi di wilayah Indonesia.