JAKARTA — Pembacaan naskah kemerdekaan menjadi agenda inti dalam pelaksanaan upacara peringatan detik-detik proklamasi di seluruh instansi pemerintah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Memahami isi teks proklamasi kemerdekaan Indonesia secara tepat memastikan jalannya prosesi upacara bendera berlangsung khidmat sesuai pedoman kenegaraan resmi.
Penyelenggara upacara dapat memilih naskah sesuai kebutuhan teknis lapangan, baik menggunakan naskah autentik bertanda tangan maupun versi penyesuaian tata bahasa terkini. Dokumen digital berformat PDF kini tersedia untuk mempermudah petugas upacara mencetak naskah pidato sebelum bertugas.
Akses Dokumen Unduhan Resmi Format PDF
Panitia upacara dapat mengunduh salinan berkas cetak siap pakai melalui tautan penyimpanan digital berikut:
- Download PDF Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Autentik
- Download PDF Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Ejaan Modern
Penyediaan dokumen ganda ini bertujuan memfasilitasi kebutuhan pembacaan formal saat upacara bendera sekaligus menjadi materi edukasi sejarah yang praktis bagi generasi muda.
Transkripsi Naskah Klad Tulisan Tangan Bung Karno
Penyusunan naskah proklamasi diawali dari goresan tangan Ir. Soekarno yang merumuskan gagasan bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Naskah konsep awal ini mencerminkan dinamika penentuan kalimat kemerdekaan sebelum disepakati secara bulat.
Adapun isi naskah tulisan tangan tersebut memuat kalimat:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, 17 – 8 – ’05
Wakil2 bangsa Indonesia.
Redaksi Naskah Autentik Ketikan Sayuti Melik
Naskah tulisan tangan kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang dengan beberapa penyesuaian ejaan dan perubahan frasa penutup. Naskah hasil ketikan mesin inilah yang ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, serta dibacakan secara resmi pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur.
Berikut rumusan teks autentik yang menjadi rujukan utama upacara kenegaraan:
P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ’05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
Penulisan angka tahun ’05 pada dokumen tersebut merujuk pada penanggalan tahun 2605 menurut kalender kekaisaran Jepang yang berlaku saat masa pendudukan militer berlangsung.
Penyesuaian Naskah Berdasarkan Ejaan Modern
Penulisan versi ejaan modern dihadirkan untuk mempermudah pemahaman literasi publik tanpa mengubah makna substansial yang terkandung di dalam naskah sejarah. Versi ini kerap digunakan dalam buku panduan ajar sekolah serta naskah siaran media massa.
Format pembacaan bahasa Indonesia yang disempurnakan tertulis:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta
Ketentuan Urutan Pembacaan dalam Tata Upacara
Berdasarkan pedoman resmi peringatan hari kemerdekaan dari Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pembacaan naskah proklamasi memiliki posisi urutan yang baku. Pembacaan teks dilakukan tepat setelah pembacaan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Petugas pembaca teks proklamasi melangkah ke podium sebelum rangkaian acara tambahan dan pembacaan doa dimulai. Pada prosesi tingkat nasional di Istana Negara, pembacaan naskah autentik secara tradisi diemban oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di hadapan Presiden dan seluruh tamu kenegaraan.