Sosok selebritis ternama Maia Estianty kembali menjadi pusat perbincangan hangat publik media sosial. Belum usai kehebohan mengenai utas kontroversialnya seputar pandangan hidup dan cara mencari rezeki, tindakan terbarunya di jagat maya justru kembali mengundang sorotan tajam.
Kali ini, perhatian publik tertuju pada unggahan doa yang dipanjatkannya untuk wilayah Indonesia yang tengah berjuang menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan. Niat baik menyampaikan simpati atas musibah tersebut justru memicu gelombang kritik baru dari kalangan netizen.
Banyak pengguna media sosial menilai narasi dan diksi yang dipilihkannya kurang tepat, sehingga melahirkan penafsiran yang menyudutkan masyarakat terdampak. Perdebatan ini pun kian meruncing dan meramaikan panggung lini masa.
Niat Baik Mendoakan Bencana Kebakaran Hutan di Indonesia
Bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah titik strategis di Tanah Air, seperti Kalimantan, Sumatera, hingga Papua, memantik keprihatinan dari berbagai lapisan masyarakat. Tak terkecuali dari kalangan publik figur yang turut memanfaatkan ruang digitalnya untuk memohon pertolongan.
Melalui platform media sosial miliknya, Maia Estianty menyampaikan untaian doa dan harapan agar curahan hujan rahmat segera membasahi bumi yang terbakar. Ia memohon agar setiap jiwa serta makhluk hidup yang berada di lokasi bencana mendapatkan perlindungan maksimal dari Sang Pencipta.
Langkah tersebut sejatinya diharapkan dapat menggalang solidaritas serta memberikan kesejukan spiritual di tengah bencana asap yang melanda. Namun, atmosfer di media sosial rupanya bergerak ke arah yang tak terduga.
Diksi Kezaliman Kami yang Memantik Polemik Baru
Puncak kritik netizen bermula ketika baris-baris doa yang diunggah Maia menyentuh bagian permohonan ampunan atas tindakan manusia terhadap lingkungan. Penggunaan pilihan kata yang terkesan menyamaratakan kesalahan menjadi pemantik utama kekecewaan publik.
Maia secara terbuka menyisipkan baris kalimat yang memohon ampun atas kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian alam, serta menganggap musibah sebagai momentum introspeksi dan pertobatan bersama.
“Ampunilah kezaliman serta kelalaian kami dalam menjaga bumi-Mu. Jika musibah ini teguran bagi kami, lembutkanlah hati kami untuk bertobat dan memperbaiki diri. Aamiin,” tulis Maia.
Kutipan doa tersebut langsung mendapat tanggapan dingin dari netizen. Penggunaan frasa kezaliman kami dinilai sangat problematis karena seolah-olah membebankan dosa atau kesalahan perusakan lingkungan secara kolektif kepada seluruh rakyat, termasuk masyarakat lokal yang sejatinya merupakan korban utama karhutla.
Gelombang Respon Netizen dan Tudingan Lepas Tanggung Jawab
Sejumlah netizen secara tegas menyuarakan keberatan mereka di kolom komentar maupun lini masa umum. Mereka berpandangan bahwa kebakaran hutan skala besar kerap dipicu oleh aktivitas ilegal serta keserakahan oknum korporasi atau kelompok tertentu, bukan kelalaian rakyat kecil.
Salah satu netizen menyuarakan kritik tajamnya secara gamblang mengenai generalisasi kalimat doa tersebut:
“‘Kezaliman kami’, sangat butuh yaa melemparkan tanggung jawab ke seluruh manusia secara kolektif. Susah bgt otaknya memilah mana yg kezaliman seluruh negeri, mana yg hanya dilakukan sekelompok org,” tulis salah satu akun netizen.
Pernyataan tersebut mewakili kekecewaan publik yang merasa bahwa permohonan ampunan yang disusun Maia terkesan melempar kesalahan kepada pihak yang tidak bersalah. Bagi mereka, memilah antara kesalahan sistemik sekelompok pihak berkuasa dan rakyat jelata adalah hal krusial dalam menyampaikan narasi di ruang publik.
Dugaan Pengalihan Isu Usai Utas Rezeki yang Kontroversial
Tidak sedikit warganet yang mengaitkan kemunculan doa karhutla ini dengan isu kontroversi sebelumnya. Sebelum unggahan doa ini mencuat, Maia sempat menjadi perbincangan hangat akibat utasnya seputar pandangan hidup dan cara mencari rezeki yang dinilai tone deaf atau kurang sensitif terhadap realitas ekonomi masyarakat.
Beberapa netizen mencurigai bahwa momen unggahan doa bencana ini sengaja dihadirkan untuk meredakan tensi kritik atas isu rezeki sebelumnya. Namun, pilihan kata yang dianggap kurang berempati justru membuat niat tersebut berbalik menjadi gelombang kritik susulan.
Fenomena ini memperlihatkan betapa publik kini makin kritis dalam menelaah setiap narasi yang disampaikan oleh tokoh publik di media sosial, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif dan bencana nasional.
Langkah Pembatasan Akses Media Sosial Tanpa Klarifikasi
Di tengah kencangnya dorongan netizen yang meminta klarifikasi atas dua perdebatan yang saling bersambung tersebut, Maia Estianty memilih untuk tidak memberikan tanggapan terbuka secara langsung kepada media maupun publik.
Sebagai langkah antisipasi terhadap riuhnya perbincangan di kolom komentar, ia mengambil tindakan teknis pada akun Threads pribadinya. Ia membatasi akses interaksi sehingga unggahannya hanya dapat dilihat dan dikomentari oleh para pengikut terdaftar saja.
Langkah pembatasan ini menandai sikapnya yang memilih menarik diri dari keriuhan polemik digital, sembari membiarkan perdebatan di kalangan pengguna internet mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.