Ibunda Lapor Ke Bareskrim Polri Usai Jadi Korban Premanisme, Sikap Manohara Jadi Sorotan

Ibunda Manohara, Daisy Fajarina, melaporkan kasus dugaan premanisme ke Bareskrim Polri. Begini respons Manohara terkait laporan hukum sang ibu.

Kabar mengejutkan datang dari keluarga selebriti Manohara Odelia Pinot. Sang ibunda, Daisy Fajarina, mendadak menyambangi Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mengadukan dugaan aksi premanisme dan perbuatan tidak menyenangkan yang menimpa tempat usahanya.

Kejadian yang berlangsung secara tiba-tiba tersebut tak hanya menimbulkan kerugian materiil bagi keluarga, tetapi juga menyisakan trauma mendalam. Daisy mengaku merasa dipermalukan di muka umum akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab yang mengusik ketenangan tempat usahanya.

Di tengah guliran laporan hukum yang dilayangkan sang ibu ke markas kepolisian, publik pun dibuat penasaran dengan posisi dan respons dari Manohara. Mengingat ikatan keluarga yang erat, banyak pihak mempertanyakan bagaimana reaksi sang mantan aktris dalam menghadapi polemik yang tengah mengguncang keluarganya tersebut.

Sambangi Bareskrim Demi Keadilan

Didampingi oleh kuasa hukumnya, Erles Rareral, Daisy Fajarina melangkah mantap menuju gedung Bareskrim Polri di Jakarta. Kedatangannya bertujuan meminta perlindungan hukum atas tindakan intimidasi yang dinilainya sudah sangat meresahkan.

Aksi premanisme tersebut menyasar tempat usaha miliknya, sehingga mengganggu operasional harian serta kenyamanan para pekerja. Daisy menegaskan bahwa kerugian yang dialaminya tidak sekadar angka nominal materiil, melainkan juga martabat diri yang merasa diinjak-injak akibat perbuatan tak menyenangkan tersebut.

Kondisi Putri Sulung yang Stres

Dampak dari insiden intimidasi ini rupanya menjalar hingga ke dalam iklim internal keluarga. Daisy menceritakan bagaimana peristiwa mencekam itu memukul mental putri pertamanya, Dewi, hingga mengalami tekanan jiwa yang cukup berat.

Perasaan cemas yang membendung membuat Daisy bahkan tak sanggup memejamkan mata sepanjang malam. Sebagai seorang ibu, melihat anak kandungnya berada dalam kondisi stres akibat teror usaha menjadi beban moral tersendiri yang sangat menyiksa hatinya.

Pikiran Daisy terus tertuju pada kondisi psikologis sang anak sulung yang harus berhadapan langsung dengan dampak buruk dari ancaman premanisme tersebut. Hal inilah yang semakin memantapkan langkahnya untuk menempuh jalur hukum demi menghentikan aksi sewenang-wenang itu.

Respons Daisy Fajarina

Di tengah tumpatan berkas laporan di Bareskrim, awak media melontarkan pertanyaan terkait tanggapan Manohara terhadap kasus yang menimpa ibundanya. Daisy memberikan jawaban lugas namun penuh kehati-hatian terkait anak perempuannya itu.

“Kalau dari Mano, ya silakan tanya langsung aja gitu. Mano kan sudah dewasa, saya tidak bisa berbicara,” kata Daisy Fajarina di Bareskrim, Jakarta.

Pernyataan verbatim di atas menggambarkan bagaimana Daisy memberi ruang penuh bagi Manohara sebagai pribadi mandiri yang sudah dewasa untuk menyampaikan pandangannya sendiri. Ia enggan mewakili atau mendahului suara sang putri dalam mengomentari perkara hukum yang tengah ditangani oleh pihak berwajib ini.

Kehangatan Hubungan Keluarga

Meski tidak membeberkan secara detail bagaimana bentuk komunikasi langsung dengan Manohara mengenai aduan kasus tersebut, Daisy menegaskan bahwa ikatan persaudaraan antar-anaknya sangat erat. Kasih sayang di antara mereka tetap terjalin utuh tanpa goyah.

Menurut Daisy, adalah hal yang sangat alami dan wajar apabila seorang anak memiliki naluri protektif terhadap anggota keluarganya ketika sedang dilanda masalah. Rasa saling menjaga tersebut menjadi benteng pertahanan utama bagi keluarga mereka dalam melewati masa-masa sulit.

Ia memastikan bahwa di balik layar, anak-anaknya tetap saling memperlihatkan kepedulian dan rasa kasih satu sama lain. Hal itu memberikan sedikit ketenangan bagi Daisy di tengah kalutnya proses hukum yang harus ia jalani.

Untaian Doa dan Harapan Seorang Ibu

Saat disinggung mengenai interaksi atau komunikasi terakhirnya bersama Manohara, Daisy menjelaskan bahwa ia selalu membawa nama anak-anaknya dalam setiap sujud dan doa keagamaan yang dilakukannya.

“Komunikasi terakhir, saya setiap salat dan berdoa saya selalu berkomunikasi mendoakan yang baik untuk anak-anak,” kata Daisy.

Kutipan tersebut menegaskan bahwa bentuk komunikasi tertinggi yang dibangun seorang ibu tak pernah terputus lewat untaian doa. Daisy mempercayakan keselamatan dan masa depan anak-anaknya kepada Sang Pencipta, terlepas dari segala dinamika kehidupan yang harus mereka hadapi.

Secara khusus, Daisy memanjatkan harapan mendalam agar Manohara senantiasa mendapat perlindungan, dianugerahi cinta kasih, serta dijauhkan dari marabahaya maupun niat jahat pihak lain dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.