Pemkot Cilegon Perluas Program KOLASE 2026 di Sekolah Demi Bangun Budaya Pilah Sampah

Pemkot Cilegon genjot Program KOLASE 2026 di puluhan sekolah untuk latih siswa pilah sampah dan hidupkan ekonomi sirkular sejak dini.

Pemerintah Kota Cilegon memperluas jangkauan Program KOLASE 2026 ke puluhan sekolah dasar guna menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini. Kebijakan ini menyasar perubahan mendasar pola hidup generasi muda agar peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Kebiasaan baru mulai terbentuk.

Langkah edukatif tersebut hadir untuk menekan timbunan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir setiap hari. Pembiasaan hidup bersih sejak bangku sekolah menjadi fondasi utama pembangunan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan.

Apa itu Program KOLASE

Inisiatif ini merupakan kependekan dari Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular di Sekolah yang digagas oleh pemerintah daerah. Program tersebut mempertemukan pihak sekolah, bank sampah lokal, dunia usaha, dan pegiat lingkungan dalam satu ekosistem terpadu.

Gagasan pokok kegiatan ini bukan semata-mata mengurangi volume buangan sampah harian warga kota. Pemerintah daerah bertekad membangun budaya pemilahan mandiri langsung dari titik sumber penghasil limbah. Program berjalan secara bertahap.

Wali Kota Cilegon Robinsar menegaskan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan harus bermula dari institusi pendidikan. Perilaku positif siswa diyakini mampu menular ke ruang keluarga dan lingkungan warga sekitar.

“Tujuan utamanya adalah edukasi, bagaimana pengelolaan sampah ini membutuhkan kesadaran,” ujar Robinsar, dikutip dari Diskominfo Kota Cilegon.

Jangkauan Sekolah dan Waktu Kegiatan

Pelaksanaan aksi pemilahan sampah ini telah memasuki gelombang ketiga dengan melibatkan puluhan satuan pendidikan secara aktif. Sosialisasi terbaru digelar di SDN Sumampir, Cilegon, pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung sangat meriah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon Sabri Mahyudin mengungkapkan bahwa kegiatan ini sudah merangkul sebanyak 60 sekolah dasar. Jumlah peserta binaan terus bertambah seiring tingginya antusiasme para guru dan siswa.

Dinas terkait menargetkan sebanyak 120 sekolah dasar dapat bergabung dalam jaringan program pada awal September 2026 mendatang. Perluasan target ini membuktikan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kurikulum muatan lokal peduli kebersihan.

Keterlibatan Bank Sampah dan Warga

Aktivitas pemilahan di lingkungan sekolah tidak berjalan sendiri tanpa dukungan jejaring pengelola sampah tingkat kelurahan. Bank sampah yang beroperasi di sekitar lokasi sekolah dilibatkan langsung untuk menampung sampah yang telah terpilah rapi.

Sabri menjelaskan bahwa keikutsertaan masyarakat sekitar menjadi motor penggerak keberhasilan program jangka panjang ini. Para pengurus bank sampah bertindak sebagai pendamping lapangan yang mengajarkan teknik penimbangan sampah secara benar.

“Jadi, ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat karena kami benar-benar melibatkan masyarakat lokal,” kata Sabri, dikutip dari Diskominfo Kota Cilegon.

Edukator lingkungan mendampingi siswa secara intensif selama kegiatan penimbangan berlangsung. Kerja sama terus diperluas.

Fokus Utama Edukasi Pemilahan Sampah

Pemerintah daerah tidak hanya mematok target keberhasilan dari tingginya tonase limbah yang berhasil dikumpulkan oleh sekolah. Pembentukan cara pandang baru bagi para peserta didik menjadi indikator keberhasilan yang paling utama.

Para murid diajarkan mengenali karakteristik sampah organik, anorganik, serta limbah yang masih dapat didaur ulang kembali. Pemahaman dasar ini menuntun anak mengambil keputusan bijak saat hendak membuang sisa kemasan makanan. Pola pikir anak mulai berubah.

Pengelolaan kebersihan kota tidak akan pernah tuntas jika hanya mengandalkan pembersihan di hilir tempat pembuangan akhir. Upaya pencegahan dan pemilahan dari hulu menjadi solusi terbaik bagi perbaikan tata kelola lingkungan.

Potensi Nilai Ekonomi Sirkular Siswa

Aktivitas pemilahan sampah di lingkungan sekolah turut memperkenalkan prinsip perputaran ekonomi sirkular kepada anak didik sejak dini. Sampah anorganik bernilai jual dikumpulkan secara berkala untuk dikonversi menjadi saldo tabungan sekolah. Sampah memiliki nilai jual.

Dana yang terkumpul dari penjualan limbah plastik dan kertas dapat dialokasikan untuk membiayai berbagai program siswa. Pihak manajemen sekolah memegang kewenangan penuh dalam menentukan pemanfaatan dana tabungan lingkungan tersebut.

Sabri merinci manfaat nyata dari saldo penjualan sampah yang telah dinikmati oleh warga sekolah binaan:

  • Mendanai agenda kegiatan karyawisata edukatif para siswa ke luar kota.
  • Membantu pembiayaan kebutuhan pengadaan fasilitas pendukung belajar mengajar di kelas.
  • Menambah kas operasional kegiatan ekstrakurikuler kepemudaan di sekolah.
  • Menanamkan pemahaman bahwa limbah terkelola mampu mendatangkan keuntungan finansial nyata.

Hasil tabungan terus bertambah. Kegiatan ini membuktikan bahwa sampah yang terpisah rapi memiliki nilai guna yang tinggi.

Capaian Reduksi Sampah di Lapangan

Hingga memasuki pelaksanaan gelombang ketiga, program edukasi lingkungan ini berhasil menorehkan angka capaian yang sangat memuaskan. Sekitar 35 ton sampah berhasil direduksi dan tidak bermuara ke tempat pemrosesan akhir kota. Data capaian terus dihimpun.

Keberhasilan reduksi limbah ini melibatkan kontribusi aktif dari sekitar 38.000 pelajar sekolah dasar di berbagai wilayah kecamatan. Gerakan bersama ini membuktikan kekuatan aksi kolektif dalam skala perkotaan.

Total dana tabungan sampah yang sukses dibukukan para siswa telah menembus angka sekitar Rp58 juta. Angka perolehan ini menjadi motivasi besar bagi sekolah lain untuk segera bergabung dalam gerakan lingkungan.

Sekolah Sebagai Titik Awal Perubahan

Lingkungan pendidikan dipilih sebagai pusat gerakan karena anak memiliki daya pengaruh yang sangat kuat di lingkungan keluarga. Pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas dapat ditularkan secara spontan kepada orang tua di rumah.

Siswa yang terbiasa memisahkan sampah di sekolah akan menolak mencampur sampah saat berada di rumah tinggal mereka. Sikap kritis anak ini secara perlahan mendorong pembiasaan baru bagi seluruh anggota keluarga. Langkah ini dinilai sangat tepat.

Sabri berharap seluruh jenjang sekolah di wilayah Cilegon dapat menerapkan tata kelola lingkungan secara mandiri. Program pembinaan Adiwiyata menjadi sarana penguat untuk mengukuhkan budaya bersih di kalangan generasi muda penerus bangsa.

Kemitraan Pemerintah dan Dunia Usaha

Keberlanjutan pembinaan lingkungan di sekolah memerlukan sokongan nyata dari berbagai pemangku kepentingan di luar jalur birokrasi pemerintahan. Kalangan dunia usaha mengambil peran aktif melalui program tanggung jawab sosial perusahaan yang terarah.

PT Chandra Asri Pacific Tbk hadir memberikan dukungan teknis dan operasional demi menyukseskan program pemilahan sampah sekolah. Manajemen industri kimia ini menilai edukasi sejak usia dini merupakan kunci utama perbaikan mata rantai daur ulang.

Perwakilan perusahaan, Niko Setiabudi, menekankan pentingnya pemilahan sampah dari tempat pertama kali sampah tersebut diproduksi oleh masyarakat. Pemisahan material sejak awal menentukan kualitas bahan baku daur ulang industri.

“Kunci utamanya ada di pemilahan,” ujar Niko, dikutip dari Diskominfo Kota Cilegon.

Dukungan industri terus mengalir. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa masalah persampahan perkotaan membutuhkan tanggung jawab bersama.

Target Perluasan Menuju Seluruh Sekolah

Tantangan berikutnya bagi pemerintah daerah adalah mempertahankan konsistensi pelaksanaan program di sekolah yang sudah berjalan aktif. Pendampingan berkala harus terus diberikan agar semangat pemilahan sampah tidak memudar setelah acara seremonial berakhir.

Pencapaian target 120 sekolah pada awal September 2026 menuntut sinkronisasi kerja antara dinas lingkungan hidup, pengawas sekolah, dan bank sampah. Evaluasi berkala menjadi instrumen penting untuk memantau kedisiplinan pemilahan sampah harian di tiap sekolah.

Berikut pilar penguatan yang terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan program:

  • Menjaga rutinitas penimbangan sampah anorganik bersama bank sampah terdekat secara berkala.
  • Membatasi penggunaan kemasan plastik sekali pakai di kantin dan lingkungan sekolah.
  • Mengintegrasikan materi pemilahan sampah ke dalam aktivitas pembelajaran harian siswa.
  • Membangun komunikasi intensif dengan wali murid agar pemilahan sampah diterapkan di rumah.

Edukasi terus diberikan konsisten. Sinergi seluruh elemen memastikan sistem ekonomi sirkular berjalan berkesinambungan di tingkat masyarakat akar rumput.

Pelaksanaan Program KOLASE 2026 di Kota Cilegon menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan hidup dapat dimulai dari langkah sederhana melalui pembiasaan disiplin di bangku sekolah dasar.

Sinergi antara pemerintah daerah, insan pendidik, anak didik, pegiat bank sampah, dan sektor dunia usaha menjadi model nyata pengelolaan limbah perkotaan berbasis ekonomi sirkular yang memberikan dampak positif bagi kelestarian alam dan kesejahteraan sosial masyarakat.