Persaingan sengit sepak bola Asia Tenggara kembali membara menjelang putaran final Piala Asia 2027 mendatang. Sorotan publik sepak bola tanah air kini tertuju pada kabar terbaru dari rival terberat Skuad Garuda di kawasan regional.
Konfederasi Sepak Bola Asia memberikan penghormatan khusus kepada sosok yang dijuluki Messi Thailand atas rekam jejak prestasinya. Pengakuan internasional ini menjadi penanda bahaya bagi Timnas Indonesia yang bakal kembali bentrok dalam satu grup persaingan.
Kabar penobatan tersebut tidak hanya membakar semangat publik Thailand tetapi juga menegaskan ambisi besar sang bintang di panggung tertinggi Asia. Persiapan matang dari tim lawan patut diwaspadai demi mempertahankan tren positif tim nasional.
Pengakuan Tertinggi Konfederasi Asia
Pihak Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara resmi menunjuk Chanathip Songkrasin sebagai figur sentral menuju gelaran Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Melalui artikel khusus tertanggal 22 Oktober, lembaga tertinggi sepak bola benua kuning tersebut menilai sang pemain telah mengukuhkan status istimewa sebagai legenda hidup sepak bola Thailand.
Penilaian tinggi tersebut diberikan berdasarkan pencapaian gemilang yang ditorehkan gelandang berusia 33 tahun itu saat membela klub maupun tim nasional. AFC memandang kehadiran pemain bertubuh mungil ini telah mengukir pencapaian baru yang menginspirasi perkembangan dunia sepak bola di kawasan Asia Tenggara.
Catatan Prestasi Sang Legenda
Selama satu dekade terakhir, nama Chanathip Songkrasin selalu diidentikkan dengan masa keemasan skuad Gajah Perang. Keunggulan teknik individu, penguasaan bola yang tenang di area sempit, serta kecerdasan membaca permainan menjadikannya sebagai motor serangan yang sangat menakutkan bagi setiap lini pertahanan lawan.
Karier profesional sang gelandang di level klub luar negeri turut mencatatkan perjalanan mengagumkan. Keberhasilannya menembus kompetisi kasta tertinggi Jepang bersama Consadole Sapporo serta Kawasaki Frontale membuktikan bahwa talenta Asia Tenggara mampu bersaing di liga papan atas Asia.
Kenangan Manis Edisi Sebelumnya
Memasuki fase akhir masa kariernya, Chanathip masih memiliki motivasi tinggi untuk mempersembahkan prestasi terbaik bagi negaranya. Panggung Piala Asia 2027 mendatang bakal menjadi ajang pembuktian atas kematangan taktik, kepemimpinan di lapangan, serta pengalaman panjang yang dimilikinya selama bertanding di level internasional.
Rekam jejak sang pemain pada edisi 2019 lalu menjadi bukti nyata ketajamannya dalam momen menentukan. Kala itu, penyerang lubang ini mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 atas Bahrain di fase grup, sekaligus membawa Thailand lolos ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak tahun 1972.
Persaingan Sengit Grup F
Pertemuan antara Timnas Indonesia dan Thailand dipastikan kembali tersaji pada penyisihan Grup F Piala Asia 2027 awal tahun depan. Kedua tim tetangga ini berada dalam kelompok yang sama bersanding dengan raksasa Asia, Jepang, yang sudah mengoleksi empat gelar juara, serta sang juara bertahan Qatar.
Dua kekuatan Asia Tenggara ini sebelumnya sempat berhadapan pada laga puncak FIFA ASEAN Cup 2026 yang dimenangkan Timnas Indonesia lewat adu penalti. Hasil tersebut memicu motivasi tinggi sang gelandang untuk kembali menjajal kekuatan Skuad Garuda di panggung Asia.
“Kami pasti akan bertemu mereka lagi di Piala Asia 2027. Kami membutuhkan lebih banyak pilihan,” kata Chanathip.
Ia kemudian menambahkan pernyataan mengenai kesiapan kedalaman skuad timnya.
“Saat ini, kami memiliki lebih banyak pilihan, tetapi siapa yang akan dipanggil tergantung pada keputusan pelatih,” tambahnya.
Sorotan Terhadap Pemain Keturunan
Menjelang duel sengit tersebut, pilar Thailand itu membagikan pandangannya mengenai kualitas barisan pemain keturunan yang memperkuat Timnas Indonesia saat ini. Pemain senior itu menilai perbedaan kualitas individu antara kedua tim sebenarnya tidak terlalu jauh.
“Saya pikir Indonesia memiliki beberapa pemain yang bisa disebut pemain keturunan, tetapi dari segi kemampuan individu, mereka tidak jauh lebih unggul dari kami.”
Ia menganggap kekalahan pada laga sebelumnya lebih disebabkan oleh kelalaian kecil skuadnya.
“Kami hanya melakukan beberapa kesalahan kecil di saat-saat tertentu,” ujar pemain yang dijuluki Messi Thailand itu.