Aroma tanah basah dan langit mendung mulai menghiasi sebagian wilayah Indonesia menjelang akhir tahun. Namun, pola cuaca kali ini membawa teka-teki tersendiri bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas harinya pada ritme alam.
Awal musim hujan yang tidak datang secara serentak memicu pertanyaan besar di tengah publik. Banyak orang bertanya-tanya, pergeseran cuaca kali ini akan berlangsung hingga kapan dan musim hujan 2027 sampai bulan apa.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan diperkirakan berlangsung dari Desember 2026 hingga Februari 2027. Meski demikian, titik akhir dari periode basah ini menyimpan dinamika yang bervariasi di tiap wilayah.
Prediksi Musim Hujan 2026 Berakhir pada Bulan Apa
BMKG tidak menetapkan satu bulan tunggal sebagai batas akhir musim hujan untuk seluruh wilayah Indonesia. Publikasi bertajuk Buku Prediksi Musim Hujan 2026/2027 yang dirilis BMKG pada September 2026 mencatat durasi hujan yang sangat beragam antardaerah.
Perbedaan durasi tersebut berakar pada karakteristik geografis serta iklim di setiap Zona Musim (ZOM). BMKG memproyeksikan durasi musim hujan membentang dari 3 hingga lebih dari 33 dasarian di seluruh penjuru negeri.
Satu dasarian dihitung selama sepuluh hari. Artinya, durasi 3 dasarian setara dengan 30 hari, sementara 33 dasarian dapat mencapai sekitar 330 hari. Rentang angka ini memperlihatkan betapa kontrasnya durasi hujan antara satu daerah dan daerah lainnya.
Periode Desember 2026 hingga Februari 2027 menjadi fase krusial karena mayoritas zona memasuki puncak musim hujan. Namun, fase puncak ini bukanlah penanda bahwa hujan akan langsung berhenti seketika.
Secara bersamaan, BMKG memprediksi sejumlah zona justru sudah mulai memasuki musim kemarau pada Januari 2027. Perbedaan fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian daerah dapat mengalami transisi ke musim kemarau saat wilayah tetangganya masih diguyur hujan lebat.
Prediksi Puncak Musim Hujan
Peta prakiraan BMKG membagi puncak musim hujan 2026/2027 ke dalam tiga gelombang utama. Beberapa zona akan mengalami puncaknya di penghujung tahun, sedangkan wilayah lain baru mencapainya pada dua bulan pertama tahun berikutnya.
Mengacu pada data halaman 6 Buku Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia terbitan BMKG, berikut rincian pembagian wilayah puncak musim hujan:
- Desember 2026: Sebanyak 155 Zona Musim diprediksi mencapai puncak hujan. Wilayahnya meliputi sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, serta sejumlah daerah di Sulawesi dan Papua.
- Januari 2027: Sebanyak 162 Zona Musim diperkirakan mencapai puncak musim hujan. Wilayahnya mencakup sebagian Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Jawa, dan Kalimantan.
- Februari 2027: Sebanyak 190 Zona Musim diprediksi mengalami puncak hujan. Wilayahnya meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sejumlah daerah di Sulawesi dan Papua.
Februari 2027 mencatatkan jumlah zona musim terbanyak yang berada di puncak curah hujan. Walau demikian, pemantauan prakiraan cuaca skala lokal tetap menjadi langkah terbaik untuk mengetahui kondisi pasti di daerah masing-masing.
Proses masuknya musim hujan sendiri berlangsung bertahap mulai dari Sumatera bagian utara sebelum menyebar ke wilayah selatan dan timur. Pada November 2026, terdapat 185 Zona Musim (24,66 persen daratan) yang mulai diguyur hujan, mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, hingga Papua. Sementara pada Desember 2026, sebanyak 266 zona musim lainnya menyusul memasuki periode basah.
Alasan Musim Hujan 2026 Mengalami Keterlambatan
Mundurnya awal musim hujan di berbagai daerah tidak lepas dari pengaruh fenomena global El Niño. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ini menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.
Dalam laporan resmi September 2026, BMKG mencatat indeks ENSO periode Juni hingga Agustus berada di angka +2,20. Angka tersebut mengindikasikan status El Niño sangat kuat, dengan dampak yang diproyeksikan bertahan sampai awal tahun 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan secara terbuka mengenai dampak fenomena iklim ini terhadap mundurnya jadwal hujan di tanah air. Pernyataan tersebut disampaikan langsung di Jakarta pada 26 Oktober 2026.
“Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino,” kata Teuku Faisal pada 26 Oktober 2026.
Meskipun kedatangan hujan bergeser, hal tersebut tidak berarti seluruh daratan Indonesia langsung dilanda kekeringan ekstrem. BMKG memperkirakan intensitas hujan tetap berpotensi turun tinggi di sejumlah titik, bahkan berpeluang memicu hujan lebat.
Apakah Musim Hujan 2026 Akan Lebih Pendek
Dampak pergeseran ini turut memengaruhi total durasi keberlangsungan musim. BMKG memprediksi mayoritas wilayah di Indonesia akan mengalami durasi musim hujan 2026/2027 yang lebih singkat dibandingkan rata-rata iklim normalnya.
Data BMKG menunjukkan sebanyak 482 Zona Musim atau sekitar 51,90 persen dari luas daratan Indonesia masuk dalam kategori musim hujan lebih pendek. Perpendekan durasi ini menjadi konsekuensi logis dari keterlambatan awal musim yang tergerus fenomena El Niño.
Sebaliknya, hanya ada 60 Zona Musim (8,58 persen luas daratan) yang diprediksi mengalami durasi hujan lebih panjang dari normal. Sementara 40 zona musim lainnya (5,06 persen daratan) diperkirakan memiliki rentang durasi yang relatif sama dengan kondisi iklim biasanya.
Kondisi ini menegaskan bahwa mundurnya awal hujan tidak selalu berujung pada pola yang seragam di setiap daerah. Sebagian wilayah harus bersiap menghadapi periode hujan yang lebih singkat, sementara daerah lain tetap berpotensi menerima curah hujan berdurasi panjang.
Dalam penerapannya di lapangan, bulan Februari 2027 tidak bisa dijadikan patokan kaku sebagai hari terakhir turunnya hujan. Pemantauan rutin terhadap pembaruan prakiraan mingguan dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG menjadi kunci utama untuk merencanakan mobilitas harian, pertanian, serta mitigasi bencana.