Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini kembali mengepung sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Kondisi iklim ekstrem yang kian memburuk memicu kemunculan ribuan titik panas di area perkebunan serta kawasan hutan.
Ancaman bencana ekologis ini kian mengkhawatirkan masyarakat luas karena memperburuk kualitas udara regional secara drastis. Faktor alam berupa kemarau panjang serta aktivitas pembukaan lahan disinyalir menjadi pemicu utama eskalasi bencana tahunan tersebut.
Faktor Iklim Pemicu Utama Kebakaran
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño merupakan penyebab kebakaran hutan di Kalimantan secara menyeluruh. Anomali suhu permukaan laut membuat tingkat kelembapan vegetasi menurun drastis sehingga lahan sangat mudah terbakar.
Kondisi kekeringan ekstrem mempercepat penyebaran titik api di atas lahan gambut maupun tanah mineral. Dampaknya, volume emisi asap tebal meluas secara signifikan hanya dalam waktu singkat.
“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).
Intensitas El Niño Mencapai Level Sangat Kuat
Pemantauan iklim terkini menunjukkan indikator kestabilan cuaca terus memburuk sepanjang bulan Agustus. Lonjakan indeks anomali cuaca mengonfirmasi bahwa potensi karhutla masih berada pada level puncak penularan api.
Peningkatan suhu regional ini memicu menyusutnya cadangan air permukaan di wilayah pedalaman Kalimantan. Akibatnya, vegetasi semak belukar menjadi sangat kering dan rentan tersulut percikan api sekecil apa pun.
“Hasil monitoring pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.457 (Juli: +0.242). Sementara itu, nilai SSTA di region Nino3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2.77 (Juli: +2.20), yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat,” jelasnya.
Sebagian Besar Wilayah Masuk Musim Kemarau
Sebagian besar zona musim di tanah air saat ini telah memasuki periode puncak kemarau. Kategori kerentanan di kawasan Kalimantan sendiri terbagi ke dalam level waspada hingga siaga bencana.
BMKG terus memperbarui peta risiko kekeringan guna membantu pemerintah daerah dalam memperketat pengawasan lapangan. Koordinasi lintas sektor diperketat untuk mengantisipasi potensi perluasan dampak karhutla.
“Masih banyak titik api yang perlu dimitigasi,” ungkapnya.
Status Tingkat Kerentanan Karhutla Regional
BMKG memetakan tingkatan status kerentanan wilayah di Pulau Kalimantan berdasarkan parameter tingkat kekeringan lahan:
- Status Waspada: Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
- Status Siaga: Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
penetapan status ini menjadi acuan bagi tim pemadam gabungan untuk menyiagakan personel. Langkah pencegahan difokuskan pada area yang memiliki riwayat kebakaran terparah.
Terkait: Apa itu Seruan “Pray For Kalimantan”
Lonjakan Drastis Titik Panas Kalimantan
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendeteksi peningkatan jumlah titik panas yang sangat tajam di wilayah Kalimantan. Lonjakan pemantauan satelit mengidentifikasi penambahan jumlah titik api hingga empat kali lipat dalam kurun waktu satu hari.
Eskalasi jumlah titik panas ini menandakan adanya aktivitas pembakaran yang masif di lapangan. Pemerintah terus memantau pergerakan sebaran asap melalui sistem pencitraan satelit secara riil.
“Berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, pemantauan Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence menunjukkan perkembangan hotspot yang dinamis selama 17-19 Agustus 2026,” demikian dikutip dari situs resmi Kemenhut, Jumat (21/8/2026).
Fluktuasi Sebaran Hotspot di Tiga Provinsi
Data Kemenhut mencatat pergerakan jumlah titik panas di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan selama periode tiga hari berturut-turut:
- 17 Agustus 2026 (07.00 WIB): Terdeteksi 93 hotspot di Kalimantan Barat, 28 hotspot di Kalimantan Tengah, serta 2 hotspot di Kalimantan Selatan (Total: 123 titik).
- 18 Agustus 2026 (07.00 WIB): Terdeteksi 15 hotspot di Kalimantan Barat, 73 hotspot di Kalimantan Tengah, serta 21 hotspot di Kalimantan Selatan (Total: 109 titik).
- 19 Agustus 2026 (07.00 WIB): Terdeteksi 259 hotspot di Kalimantan Barat, 242 hotspot di Kalimantan Tengah, serta 17 hotspot di Kalimantan Selatan (Total: 518 titik).
“Jumlah keseluruhan di ketiga provinsi mencapai 518 titik atau lebih dari empat kali lipat dibandingkan hari sebelumnya,” demikian keterangan Kemenhut.
Akumulasi Ribuan Titik Panas Lahan
Secara akumulatif sepanjang periode 17 hingga 19 Agustus 2026, pemantauan satelit merekam sebaran api yang cukup mengkhawatirkan. Wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi penyumbang terbesar angka hotspot tersebut.
Kemenhut mencatat total indikasi titik api mencapai 750 lokasi berkepercayaan tinggi. Angka ini mencerminkan tingginya ancaman kerusakan lingkungan jika tidak segera ditangani secara intensif.
Kondisi geografis yang sulit dijangkau sering kali menjadi kendala utama pasukan darat dalam melakukan pemadaman secara cepat. Oleh karena itu, bantuan armada udara terus dikerahkan ke lokasi rawan.
Kapan Kebakaran Hutan di Kalimantan Terjadi?
Berdasarkan laporan analisis lingkungan, publik sering mempertanyakan kapan kebakaran hutan di kalimantan terjadi secara masif. Berdasarkan pemantauan rutin, tren kenaikan titik panas biasanya mulai terdeteksi sejak awal tahun dan melonjak drastis pada pertengahan tahun.
Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) merekam rekam jejak sebaran api sepanjang semester pertama. Periode Januari hingga Juli menjadi fase krusial munculnya ribuan titik panas di lima provinsi Kalimantan.
Pemetaan ini menjadi bukti bahwa bencana karhutla bukan lagi fenomena mendadak, melainkan ancaman tahunan yang terpola. Pemantauan ketat pada bulan-bulan kering menjadi kunci penanganan awal.
Dominasi Titik Panas di Area Konsesi
Temuan Walhi menunjukkan fakta mengejutkan mengenai sebaran titik panas di Pulau Kalimantan sepanjang periode Januari-Juli 2026. Mayoritas indikasi kebakaran justru terdeteksi berada di dalam wilayah kerja perusahaan swasta.
“Temuan paling penting dalam analisis Walhi menunjukan bahwa 25.524 hotspot atau sekitar 74% dari total hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan,” ungkap Uli.
Data tersebut mempertegas adanya dugaan pembiaran atau kesengsaraan dalam aktivitas pembukaan lahan secara ilegal. Luas indikatif karhutla secara keseluruhan pada periode tersebut diperkirakan mencapai 33.837 hektare.
Celah Hukum Pembukaan Lahan Berkelanjutan
Aktivis lingkungan menilai upaya penanganan karhutla selama ini belum menyentuh akar permasalahan hukum. Penindakan di lapangan dinilai masih berfokus pada langkah penanggulangan teknis sesaat.
“Bencana berulang itu menunjukan dugaan kejahatan terorganisir yang gagal diberantas negara, hal itu menurut Uli “dijawab negara dengan memadamkan api, saat apinya muncul sampai modifikasi cuaca”.”
Regulasi perlindungan lingkungan hidup sejatinya telah melarang keras aktivitas pembakaran lahan. Namun, adanya pasal pengecualian bagi kearifan lokal kerap disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Perlindungan Terhadap Praktik Masyarakat Adat
Dalam aturan undang-undang, pembukaan lahan dengan cara membakar pada dasarnya dilarang keras. Pengecualian khusus hanya diberikan kepada masyarakat adat dengan batasan maksimal dua hektare per kepala keluarga serta pengawasan ketat.
“Itu sebenarnya bentuk pengakuan terhadap praktik dan pengetahuan tradisional dalam melakukan aktivitas pertanian masyarakat adat,” kata Uli.
Masyarakat adat Dayak sejatinya selalu menerapkan pola kearifan lokal yang sangat bertanggung jawab dan terkendali saat mengolah tanah. Penyalahgunaan celah aturan oleh pihak industri inilah yang kemudian memicu kerusakan ekosistem dalam skala luas.
Penanganan bencana karhutla di Kalimantan memerlukan komitmen tegas dari seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya terbatas pada aksi pemadaman darurat di lapangan tetapi juga penegakan hukum yang tak tebang pilih terhadap para pelaku perusakan lingkungan.
Tanggung jawab pengawasan kawasan konsesi harus ditingkatkan agar ancaman kabut asap tahunan ini tidak terus mengorbankan kesehatan masyarakat serta kelestarian ekosistem hutan hujan tropis Indonesia.
Referensi artikel ini:
- BMKG Ungkap Penyebab Karhutla di Kalimantan: Iklim Kering Efek El Nino. 2026. dilansir dari https://news.detik.com/berita/d-8628464/bmkg-ungkap-penyebab-karhutla-di-kalimantan-iklim-kering-efek-el-nino.
- Karhutla Kalimantan, lonjakan titik api hingga kemarahan warga yang ‘tercekik’ kabut asap seumur hidup. 2026. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx2v3v70x87o