PSSI kini mulai membentuk fokus baru dalam misi pencarian pemain naturalisasi Timnas Indonesia untuk memperkuat kedalaman skuad Garuda. Kebijakan ini menandai perubahan arah perburuan bakat keturunan yang sebelumnya sangat bergantung pada akademi sepak bola di Negeri Kincir Angin.
Staf khusus Menteri Hukum Republik Indonesia, Noor Korompot, mengonfirmasi bahwa perburuan bakat di Belanda tidak lagi menjadi prioritas utama. Perubahan fokus ini dipicu oleh dinamika aturan hukum ketenagakerjaan serta kebijakan imigrasi terbaru yang berlaku di kawasan Eropa.
Regulasi Ketat Imigrasi Liga Belanda
Regulasi ketat imigrasi Liga Belanda menjadi alasan mendasar di balik keputusan PSSI untuk mengevaluasi prioritas pencarian pemain keturunan. Pemerintah Belanda bersama Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) memperketat aturan ketenagakerjaan demi melindungi hak para pesepak bola lokal.
Situasi sepak bola di Belanda sempat digegerkan oleh kemunculan kasus paspoorgate pada kompetisi musim 2025/2026 lalu. Beberapa pemain asal Indonesia serta Suriname di Liga Belanda dinilai tampil membela klub tanpa dokumen izin kerja yang sah.
Kontroversi hukum tersebut membuat KNVB mengambil sikap lebih hati-hati dalam mengawasi pergerakan transfer pemain non-Uni Eropa. Meskipun permasalahan paspoorgate telah diselesaikan menjelang penutupan musim, dampak regulasinya tetap memengaruhi kebijakan pencarian pemain.
Noor Korompot menegaskan situasi tersebut melalui keterangan tertulis di akun media sosial pribadinya. Noor Korompot menyampaikan, “Rekrutmen atau penggunaan pemain naturalisasi dari Belanda (terutama bagi pemain keturunan yang memilih membela Timnas Indonesia) saat ini tidak menjadi prioritas,”.
Kebijakan ketat dari otoritas setempat membatasi fleksibilitas para pesepak bola keturunan yang hendak berkarier atau berpindah kewarganegaraan. Noor Korompot menuliskan, “Mengingat aturan ketat karena adanya regulasi ketenagakerjaan dan imigrasi Pemerintah Belanda mengenai pemain non-Uni Eropa (non-EU).”
Selain regulasi pemerintah setempat, tindakan pencegahan tambahan juga datang dari induk organisasi sepak bola negara tersebut. Noor Korompot menambahkan, “Serta adanya langkah proteksionis dari Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB),” yang makin membatasi ruang gerak pemantauan bakat.
PSSI Alihkan Target Negara Lain
PSSI alihkan target negara lain untuk menelusuri bakat pesepak bola berdarah Indonesia yang berkarier di luar wilayah Belanda. Tim pemantau bakat kini memperluas jangkauan pemantauan hingga ke beberapa negara besar di benua Eropa serta kawasan lainnya.
Penjelajahan bakat keturunan kini difokuskan pada negara Jerman, Amerika Serikat, Australia, Belgia, hingga Spanyol. Negara-negara tersebut dinilai memiliki iklim kompetisi sepak bola yang sangat kompetitif bagi tumbuh kembang pesepak bola muda.
Noor Korompot membeberkan pergerakan tim pemantau PSSI yang mulai gencar berburu bakat di luar kawasan tradisional. Noor Korompot mengungkapkan, “Kabarnya tim pemantau dari PSSI justru mengalihkan perhatiannya pada pemain berdarah Indonesia yg main di Jerman, Amerika, Australia, Belgia dan Spanyol serta negara Eropa di luar Belanda,”.
Pendekatan ini diambil agar proses administrasi perpindahan kewarganegaraan para pemain tidak menemui kendala hukum yang rumit. Diversifikasi negara tujuan pencarian bakat diyakini mampu menjaga pasokan amunisi berkualitas bagi tim nasional dalam jangka panjang.
Sebelum perubahan fokus ini terjadi, Belanda memang menjadi penyumbang utama pesepak bola keturunan bagi tim nasional. Belasan nama terkenal jebolan akademi klub Belanda seperti Mees Hilgers, Dean James, Ole Romeny, hingga Nathan Tjoe-A-On telah lebih dahulu memperkuat Indonesia.
Pemain Keturunan Asal Amerika Australia
Pemain keturunan asal Amerika Australia kini makin mendominasi daftar pemanggilan tim nasional di berbagai kelompok umur. Pergeseran tren pencarian bakat ini mulai terlihat nyata sejak berakhirnya masa kepelatihan Patrick Kluivert di jajaran tim nasional.
Pada komposisi Skuad Timnas U-20 Indonesia asuhan pelatih Nova Arianto saat berlaga di Piala AFF U-19 2026, dominasi pemain non-Belanda terlihat jelas. Komposisi tim tersebut dihuni oleh empat pemain asal Australia, satu pemain dari Jerman, serta satu nama dari Brasil.
Fenomena serupa juga tercermin di skuad tim nasional level senior yang dinakhodai oleh pelatih John Herdman. Pelatih kepala tersebut banyak memanggil talenta berdarah Indonesia yang meniti karier di kompetisi Amerika Serikat serta Australia.
Dari kompetisi Liga Australia, muncul nama Luke Vickery yang telah berhasil mencatatkan penampilan perdana bersama tim nasional senior. Kehadirannya memberikan warna baru serta menambah kekuatan di sektor serangan tim Garuda.
Sementara dari kompetisi Amerika Serikat, proses administrasi perpindahan kewarganegaraan telah berhasil menyelesaikan nama Adrian Wibowo serta Mitchell Baker. Selain itu, talenta muda seperti Lucas Lee juga telah lebih dahulu memperkuat tim nasional pada kelompok usia muda.
Pembentukan kekuatan baru berbasis talenta dari berbagai penjuru dunia ini diharapkan mampu memperkokoh prestasi sepak bola nasional. Diversifikasi asal klub pemain membuktikan komitmen federasi dalam membangun kedalaman tim nasional secara profesional.