SAINS – Pemanasan global tidak sekadar memicu lonjakan suhu ekstrem di berbagai belahan dunia. Dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia kini bergerak lebih jauh hingga mengubah bentuk fisik planet.
Secara mengejutkan, permukaan padat planet ini perlahan mulai mengalami pergeseran. Kerak batuan yang menopang daratan tidak lagi berada dalam posisi statis.
Mencairnya lapisan es di kawasan kutub meringankan beban raksasa yang selama ini menekan permukaan Bumi. Akibatnya, bagian kutub perlahan terangkat ke atas, sementara tonjolan padat di garis khatulistiwa menyusut.
Fenomena geologis ini membuat bagian batuan padat Bumi semakin membulat dari waktu ke waktu, menjadi indikator nyata dampak pemanasan global terhadap kondisi fisik planet.
Bentuk Fisik Bumi Padat Mengalami Pergeseran
Bumi sebenarnya tidak berbentuk bola sempurna karena sedikit lebih pipih di bagian kutub dan menggembung di sekitar khatulistiwa. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa bagian padat Bumi justru semakin membulat dengan kecepatan yang terus meningkat akibat mencairnya es kutub.
Ketika lapisan es mencair, tekanan terhadap kerak Bumi berkurang sehingga permukaannya perlahan terangkat kembali. Sebaliknya, peningkatan massa di sekitar khatulistiwa memberikan tekanan pada kerak Bumi sehingga tonjolannya berkurang.
Berikut adalah rincian data perubahan bentuk fisik Bumi padat berdasarkan hasil pengukuran berkala:
- Periode 1997–2000: Permukaan kutub terangkat dan tonjolan khatulistiwa menyusut sekitar 0,02 inci (0,5 milimeter) per tahun.
- Periode 2011–2015: Kecepatan perubahan bentuk meningkat menjadi 0,04 inci (1 milimeter) per tahun.
- Tingkat Percepatan: Kecepatan pembulatan Bumi padat bertambah sekitar 0,016 inci (0,4 milimeter) per tahun setiap dekade.
Angka tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan diameter Bumi di khatulistiwa yang mencapai 7.926 mil (12.756 kilometer). Namun, percepatan ini membuktikan besarnya dampak perpindahan massa es terhadap struktur planet.
Metode Terobosan Christoforos Kotsakis Menganalisis Data Satelit GNSS
Temuan ilmiah ini dipublikasikan pada 9 September di jurnal JGR Solid Earth menggunakan pengukuran langsung dari Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS). Meskipun menyediakan data akurat, stasiun GNSS memiliki keterbatasan karena jumlahnya sedikit di dekat Kutub Utara, Kutub Selatan, dan wilayah laut terpencil.
Guna mengatasinya, Christoforos Kotsakis, profesor geodesi dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, mengembangkan metode baru untuk menganalisis data GNSS agar perubahan permukaan planet terdeteksi lebih akurat.
Dalam laporannya, Christoforos Kotsakis menjelaskan bahwa kondisi kerak Bumi yang terangkat kembali mirip dengan adonan roti yang kembali mengembang setelah ditekan menggunakan jari.
Pengangkatan permukaan kutub dan penyusutan tonjolan khatulistiwa inilah yang secara bertahap membentuk kontur Bumi padat menjadi lebih bulat.
Efek Kombinasi Batuan Padat
Perubahan bentuk menjadi lebih membulat ini hanya berlaku pada bagian padat Bumi, sementara kondisi lautan di permukaan menunjukkan dinamika yang berbeda.
Jika bagian padat Bumi dan lautan dihitung secara bersamaan, planet ini justru menjadi semakin pipih sekitar 0,03 inci (0,8 milimeter) per tahun. Fenomena ini terjadi karena air laut semakin menggembung di sekitar khatulistiwa.
Perpindahan massa air dari lelehan es kutub menuju khatulistiwa memberikan efek penambahan massa lautan yang lebih besar dibandingkan efek pembulatan pada batuan di bawahnya. Penelitian lain turut mengonfirmasi bahwa perubahan distribusi massa ini ikut memperlambat rotasi Bumi.
Pengukuran Medan Gravitasi Dan Pemantauan Dampak Perubahan Iklim
Selain memanfaatkan sistem GNSS, para peneliti melacak perubahan bentuk planet melalui pengukuran medan gravitasinya. Medan gravitasi Bumi dapat berubah secara dinamis mengikuti pergeseran distribusi massa.
Hasil studi menunjukkan bahwa pengukuran GNSS dan medan gravitasi tidak sepenuhnya memperlihatkan pola yang sama. Hal ini menandakan bahwa perubahan bentuk fisik Bumi dan medan gravitasinya tidak selalu bergerak seirama.
Meski demikian, kedua metode ini saling melengkapi untuk memantau dampak utama perubahan iklim global. Penggabungan data tersebut membantu ilmuwan memetakan mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika serta perubahan distribusi air laut secara presisi.