Alasan Dokter Tirta Lanjut Kuliah S2 Lagi dan Pilih UGM

Dokter Tirta memutuskan lanjut kuliah S2 Kesehatan Masyarakat di UGM untuk memperbarui ilmu dan meningkatkan kualitas edukasi kesehatan.

Dokter sekaligus pencerah kesehatan publik dr. Tirta Mandira Hudhi kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister. Kali ini, praktisi kesehatan tersebut resmi mengambil program studi Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada.

Langkah akademis ini menjadi kelanjutan dari perjalanan pendidikan yang pernah ditempuh sebelumnya. Praktisi yang aktif di media sosial ini juga tercatat pernah menyelesaikan jenjang pendidikan magister di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung.

Dorongan Memperbarui Ilmu

Keputusan untuk menempuh pendidikan tinggi secara berkelanjutan didasari oleh rasa tanggung jawab moral yang besar. Banyaknya jumlah pengikut di berbagai platform media sosial mendorong dr. Tirta untuk selalu menjaga akurasi serta kesahihan informasi kesehatan yang dibagikan.

Perkembangan ilmu medis yang dinamis memerlukan pembaruan wawasan secara konsisten. Hal tersebut menjadi modal utama dalam menyampaikan materi edukasi yang relevan serta dapat dipertanggungjawabkan kepada khalayak luas.

“Kita tahu bahwa saya seorang praktisi yang belajar soal bisnis dan belajar soal kesehatan dan saya diikuti oleh banyak orang dari berbagai macam generasi di media sosial. Dan itu menjadi tekanan sendiri kalau saya tidak update ilmu,” kata dr. Tirta, dikutip dari akun Instagram resminya @dr.tirta, Jumat (18/9/2026).

Fokus Promosi Kesehatan

Pemilihan disiplin ilmu Kesehatan Masyarakat di Kampus Biru sangat erat kaitannya dengan aktivitas edukasi sehari-hari. Pemahaman mendalam mengenai promosi kesehatan masyarakat menjadi fondasi penting dalam memperluas jangkauan pesan preventif.

Strategi penyampaian informasi kesehatan terus dikembangkan agar lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan. Pendekatan melalui kebiasaan sehari-hari seperti olahraga dan pola hidup bersih menjadi fokus utama dalam setiap konten edukasi.

“Saya tuh bidangnya edukasi, promosi kesehatan. Terus berkolaborasi dengan berbagai sejawat entah itu di bidang kesehatan atau yang di bidang non-kesehatan tapi masih berdampak dengan edukasi kesehatan,” ujarnya.

Pertimbangan Pendidikan Spesialis

Keputusan untuk tidak mengambil jenjang dokter spesialis diambil berdasarkan perhitungan matang mengenai efisiensi waktu dan prioritas hidup. Faktor usia yang telah memasuki kepala tiga serta durasi studi spesialis yang panjang menjadi bahan pertimbangan utama.

Kecukupan dari segi finansial serta efektivitas waktu praktik dokter juga menjadi poin analisis pribadi. Kesempatan untuk menempuh pendidikan spesialis dinilai lebih tepat dialokasikan bagi sejawat lain yang ingin fokus penuh pada layanan klinis.

“Dan saya merasa kalau saya ngambilnya spesialis. Tapi kalau prakteknya dikit kok kayak kurang aja, kursi (praktek dokter) itu bisa diambil orang yang lebih layak dan lebih menginginkan praktek di situ gitu,” ungkapnya.

Impian Menjadi Pengajar

Perjalanan akademis yang terus berlanjut ini memiliki arah tujuan jangka panjang di dunia pendidikan perguruan tinggi. Keinginan untuk membagikan pengalaman serta wawasan di ruang kuliah menjadi cita-cita yang sedang diwujudkan.

Aktivitas sebagai pengajar tamu serta mentor di beberapa perguruan tinggi ternama sudah mulai dijalani saat ini. Pembelajaran sepanjang hayat dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri secara berkelanjutan.

“Cita-cita saya tuh memang ngajar di bidang komunikasi kesehatan di bidang edukasi kesehatan. Jadi memang akan sekolah terus sampai terminal S3 dan bagi saya sih lifelong learning, belajar itu bisa dari mana aja. Tapi kebetulan saya hobi sekolah,” kata dr. Tirta.