BBM Langka di Bali Bikin Warga dan Wisatawan Panik

Kondisi BBM langka di Bali melanda Denpasar, Badung, dan Tabanan. Simak pantauan stok pertalite dan pertamax di SPBU serta keluhan warga terkini.

Fenomena BBM langka di Bali kembali melanda sejumlah wilayah strategis pascalibur panjang. Warga di kawasan Denpasar, Badung, hingga Tabanan kelimpungan berburu bensin sejak Senin, 21 Oktober 2026.

Kondisi BBM langka di Bali ini berdampak langsung pada kelancaran aktivitas harian masyarakat. Banyak warga yang hendak berangkat kerja maupun mengantar anak sekolah terhambat akibat stok pertalite dan pertamax di SPBU habis total.

Situasi tak menentu ini memaksa masyarakat beralih membeli bensin eceran di kios-kios Pertamini. Sebagian warga bahkan rela berkeliling jauh hingga menunggu berjam-jam di area SPBU demi mendapatkan pasokan bahan bakar.

SPBU Kosong Melompong di Denpasar dan Tabanan

Pantauan langsung di lapangan menunjukkan kondisi BBM langka di Bali merata dari kawasan Ubung Kaja Denpasar Utara hingga Kota Tabanan. Sejumlah fasilitas SPBU memang tetap beroperasi, namun pasokan bensin di tangki penyimpanan telah habis sejak pagi hari.

Kawasan perlintasan utama seperti Jalan Bypass Soekarno Kediri hingga Pesiapan Tabanan dipadati warga yang rela mengantre di tepi jalan. Petugas SPBU setempat bahkan tidak dapat memberikan kepastian mengenai jadwal kedatangan truk tangki pengangkut BBM.

Para pengguna jalan terpaksa mengeluhkan nihilnya stok bensin di tengah jam sibuk aktivitas harian. Kondisi ini membuat para pengendara cemas karena indikator bahan bakar kendaraan mereka sudah menunjukkan posisi kritis.

Wisatawan dan Pengendara Terjebak Jalur Badung

Kelangkaan bensin juga berdampak signifikan pada sektor pariwisata di sepanjang Jalan Raya Tanah Lot hingga Jalan Raya Canggu Badung. Sejumlah wisatawan asing terpaksa memutar balik kendaraan mereka setelah melihat area SPBU dipasangi tali pembatas.

Pemandangan warga yang menuntun kendaraan atau berteduh di sekitar SPBU menjadi hal yang kerap dijumpai. Mereka tidak berani melanjutkan perjalanan karena khawatir kendaraan akan mogok di tengah jalan.

Jalur-jalur utama yang biasanya ramai lalu lintas kendaraan kini diwarnai kebingungan para pengendara. Minimnya informasi resmi mengenai ketersediaan stok memperparah kepanikan pengguna jalan di area wisata tersebut.

Warga Beralih Membeli Pertamax Demi Mobilitas

BBM langka di Bali memaksa sebagian masyarakat mengubah kebiasaan konsumsi bahan bakar mereka. Berdasarkan penelusuran dari Ubung Denpasar hingga Dalung Kuta Utara Badung, hanya satu SPBU di Jalan Kebo Iwa Utara Padangsambian Kaja yang masih memiliki pasokan.

SPBU tersebut langsung diserbu antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat. Warga yang terbiasa menggunakan pertalite akhirnya memilih membeli pertamax meski dengan harga yang lebih tinggi.

Pilihan tersebut diambil ketimbang kendaraan mereka mogok dan mengganggu pekerjaan sehari-hari. Langkah serupa dialami para pengemudi ojek online yang khawatir ditinggalkan penumpang jika kehabisan bensin di tengah jalan.

“Daripada mogok kehabisan bensin (BBM) lebih baik isi saja dengan pertamax. Yang penting sampai di rumah,” ujar Made Armada, warga Badung.

Desakan Penambahan Kuota Pasokan Pulau Dewata

Tersendatnya pasokan bensin ke wilayah Bali memicu pertanyakan besar dari kalangan masyarakat setempat. Aktivitas mobilitas warga dan arus wisatawan yang terus meningkat seharusnya diimbangi dengan jaminan kelancaran distribusi BBM.

Masyarakat mendesak pihak otoritas terkait dan pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk memulihkan distribusi. Penambahan kuota BBM dinilai menjadi solusi mendesak agar roda perekonomian daerah tidak lumpuh.

Gangguan pada pasokan energi ini dikhawatirkan dapat memicu keresahan yang lebih luas jika tidak segera ditangani. Pihak berwenang diharapkan segera memberikan kepastian terkait kelancaran pasokan ke seluruh SPBU di Bali.

“Kalau pasokan BBM seret, semuanya akan terganggu. Situasi ini harus menjadi perhatian pihak terkait, terutama pemerintah, agar tidak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat,” tegas Nyoman Sujana, warga Tabanan.

Isu Anggapan Beralih ke Kendaraan Listrik

Di tengah krisis bensin yang terjadi, bermunculan berbagai spekulasi dan anggapan di tengah masyarakat kalangan bawah. Isu yang beredar mengaitkan kelangkaan bensin dengan upaya dorongan pengalihan penggunaan kendaraan listrik.

Masyarakat berspekulasi adanya imbauan secara tidak langsung untuk meninggalkan bahan bakar fosil menuju teknologi modern. Kendati demikian, isu tersebut belum terbukti dan kelangkaan murni berdampak langsung pada mobilitas harian.

Kebutuhan akan BBM fosil saat ini masih sangat mendesak bagi mayoritas populasi di Bali. Kepastian distribusi tetap menjadi harapan utama warga agar aktivitas transportasi kembali berjalan normal tanpa hambatan.