KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua PBNU masa khidmat 2026–2031. Keputusan monumental ini menjadi Hasil Muktamar NU 2026 yang disahkan melalui musyawarah mufakat forum Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Penetapan tersebut diumumkan langsung dalam sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi ini menandai babak baru kepemimpinan jamiyyah dengan mengembalikan supremasi penentuan nakhoda PBNU kepada kiai sepuh.
Puncak Keputusan Forum AHWA
Musyawarah penetapan kepemimpinan puncak ini berlangsung sangat khidmat. Anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, menyampaikan hasil keputusan musyawarah mufakat tersebut secara terbuka di hadapan seluruh muktamirin.
“Rapat yang kami laksanakan tadi pagi adalah sebuah musyawarah mufakat, yang merupakan pelaksanaan mandat keputusan Muktamar, memilih dan menetapkan Ketua Umum PBNU. Dan ini adalah mekanisme yang pertama dilakukan,” kata KH Anwar Iskandar.
Pertemuan penting sembilan kiai sepuh dipusatkan di Ndalem KH Wahab Chasbullah, Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Majelis ulama secara mufakat mempercayakan pimpinan Tanfidziyah kepada sosok Pengasuh Pesantren Tebuireng tersebut.
Kebijakan Baru Mekanisme Pemilihan Organisasi
Sistem penetapan Ketua PBNU periode ini mencatatkan sejarah baru bagi perjalanan tata kelola Nahdlatul Ulama. Muktamirin secara resmi menghentikan skema pemungutan suara langsung dan beralih penuh pada mekanisme penunjukan ulama sepuh.
Perubahan sistem kepemimpinan dilakukan guna menjaga kehormatan serta marwah tradisi organisasi pesantren. Lewat aturan baru ini, nama-nama yang lolos tabulasi awal diserahkan kepada Rais Aam untuk mendapat pertimbangan sebelum ditinjau AHWA.
Sebelum melangkah ke meja musyawarah AHWA, Gus Kikin telah mendominasi dukungan dari jajaran kepengurusan daerah. Pengasuh Pesantren Tebuireng itu berhasil mengumpulkan 472 suara dukungan dalam tahapan tabulasi awal.
Jumlah raihan tersebut menempatkan Gus Kikin jauh melampaui kontestan calon Ketua PBNU lainnya. Selisih dukungan yang tergolong lebar menjadi bukti kuatnya tingkat kepercayaan pengurus cabang serta wilayah.
Selain nama Gus Kikin, panitia mencatat empat kandidat lain yang dinyatakan lolos syarat administrasi. Tokoh tersebut yakni KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Cholil Staquf, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
Amanah Keorganisasian dan Rekam Jejak Pimpinan
Pencalonan figur pimpinan PWNU Jawa Timur ini berangkat dari dorongan kuat struktur pengurus daerah. Gus Kikin menegaskan bahwa keterlibatannya dalam bursa kepemimpinan bukan atas kehendak atau ambisi pribadi.
Sosok ulama yang berpengalaman dalam tata kelola manajemen ini menerima mandat sebagai wujud pengabdian. Dukungan penuh PCNU dan PWNU se-Jawa Timur menjadi modal legitimasi organisatoris yang sangat kokoh.
Meski mengantongi angka tabulasi tertinggi, beliau tetap mengikuti seluruh alur aturan forum. Kepatuhan pada keputusan Rais Aam dan AHWA memperlihatkan kedewasaan berorganisasi di tingkat tertinggi.
Mengarungi Dinamika dan Menjaga Persatuan Umat
Perhelatan Muktamar Ke-35 NU sempat diwarnai persidangan yang dinamis serta perdebatan aturan yang cukup hangat. Perbedaan pandangan mengenai syarat calon hingga pembahasan tata tertib sempat menghiasi arena muktamar di Jombang.
Menghadapi perbedaaan tersebut, Gus Kikin secara konsisten menyuarakan pesan kedamaian. Beliau mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk mengedepankan ukhuwah serta merawat kebersamaan di atas kepentingan kelompok.
“Ini kebersamaan,” tegas Gus Kikin di arena perhelatan muktamar.
Duet Pimpinan Baru Jamiyyah Nahdlatul Ulama
Terpilihnya pengasuh Tebuireng ini melengkapi susunan nakhoda tertinggi kepengurusan PBNU untuk lima tahun mendatang. Sebelumnya, forum AHWA telah menetapkan KH Miftachul Akhyar untuk kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU.
Duet kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin diharapkan mampu membawa kesejukan serta kemaslahatan bagi umat. Kombinasi kepemimpinan Syuriyah dan Tanfidziyah ini menjadi modal utama dalam menggerakkan potensi jamiyyah.
Hasil Muktamar NU 2026 ini mengakhiri seluruh rangkaian persidangan organisasi di Jombang. Penutupan resmi agenda tertinggi NU ini dijadwalkan berlangsung pada Senin (31/8/2026) dan dihadiri langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Keputusan mufakat ini menegaskan kembali kejayaan tradisi musyawarah dalam menentukan nakhoda organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kombinasi legitimasi dukungan akar rumput dan restu kiai sepuh diharapkan mampu membawa PBNU semakin solid, mandiri, dan konsisten melayani keumatan serta kebangsaan.