Kabar duka menyelimuti dunia hiburan tanah air setelah ayah dari penyanyi dangdut Nini Carlina dan Fitri Carlina, H. Tasrun Hadinoto bin Asir, dinyatakan meninggal dunia pada usia 84 tahun. Kepergian almarhum menyisakan kesedihan mendalam bagi seluruh anggota keluarga yang setia mendampingi selama masa-masa sulit tersebut. Kronologi kepergian sang ayah menjadi perhatian publik mengingat almarhum sempat berjuang melawan penyakit jantung dan infeksi paru-paru dalam dua tahun terakhir.
Almarhum mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur pada Sabtu (7/11/2026) sekitar pukul 14.15 WIB. Sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, mendiang sempat menjalani perawatan medis di ruang perawatan selama sekitar dua pekan. Pihak keluarga, termasuk para putri almarhum yang berkarier di panggung musik Indonesia, senantiasa memantau perkembangan kesehatan sang ayah dari hari ke hari.
Kondisi fisik almarhum yang kian merosot menuntut keluarga untuk mengambil keputusan besar secara bersama-sama. Momen-momen terakhir di rumah sakit diwarnai dengan ketegangan serta kepasrahan seluruh sanak saudara. Setelah melalui diskusi yang mendalam antara jajaran tim medis dan pihak keluarga, keputusan terbaik akhirnya diambil demi memberikan penghormatan terakhir bagi almarhum.
Prosesi pelepasan jenazah dilangsungkan dengan khidmat oleh pihak keluarga serta para pelayat yang hadir di rumah duka. Kehadiran kerabat dan masyarakat sekitar memberikan penguatan emosional bagi keluarga yang ditinggalkan. Artikel ini mengulas secara terperinci setiap tahapan kondisi medis dan momen emosional yang dialami almarhum.
Penyebab Gangguan Kesehatan Sang Ayah
Penyakit infeksi paru-paru yang dialami almarhum H. Tasrun Hadinoto bukanlah hal yang baru muncul secara tiba-tiba. Menurut penuturan Nini Carlina, gangguan pada organ pernapasan tersebut sudah berulang kali terdeteksi dalam kurun waktu dua tahun belakangan. Masalah kesehatan ini mulai muncul setelah almarhum menjalani tindakan medis berupa penanaman ring pada organ jantungnya.
Pemasangan ring jantung merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk membuka penyumbatan pembuluh darah, namun kondisi tubuh pasien yang sudah berusia lanjut sering kali lebih rentan terhadap penyakit penyerta lainnya. Komplikasi infeksi jaringan paru-paru ini memerlukan perhatian medis secara rutin karena dapat memengaruhi kadar oksigen dalam darah dan memperberat kerja jantung. Dalam kronologi kesehatan almarhum, gejala ini terus berulang dan membutuhkan penanganan intensif.
Nini Carlina membeberkan secara langsung kondisi medis yang dialami oleh sang ayah selama dua tahun belakangan ini.
“Dua tahun belakangan ini, semenjak Bapak sudah pasang ring, memang beberapa kali Bapak itu terdiagnosa infeksi di paru-parunya,” ungkap Nini Carlina usai pemakaman di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu (8/11/2026).
Pertemuan Surabaya Menjadi Awal Perawatan
Perkembangan kondisi kesehatan almarhum mengalami penurunan yang cukup signifikan usai menghadiri sebuah acara kumpul keluarga di Surabaya. Perjalanan jauh serta aktivitas yang padat menguras fisik almarhum yang telah menginjak usia 84 tahun. Sesaat sebelum bertolak kembali menuju Jakarta, kondisi fisik almarhum mendadak drop sehingga keluarga memutuskan untuk segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat di Surabaya.
Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa infeksi yang menyerang saluran pernapasan almarhum sudah semakin berat dan menimbulkan komplikasi serius. Almarhum kemudian harus menjalani perawatan medis secara penuh di rumah sakit selama kira-kira 15 hari untuk mendapatkan penanganan darurat.
Nini Carlina menceritakan kembali momen saat sang ayah harus dirawat di rumah sakit Surabaya sebelum akhirnya dipindahkan ke Jakarta.
“Ketika pulang Surabaya mau ke Jakarta Papa drop di Surabaya. Paginya kami bawa ke rumah sakit dan ternyata Papa infeksinya lebih berat terus jadi complicated, dirawat kurang lebih 15 hari,” jelas Nini.
Penurunan Kondisi Kritis Pada Hari Jumat
Setelah melewati perawatan ketat selama dua pekan di rumah sakit, kondisi kesehatan almarhum sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan hingga tim dokter mengizinkannya untuk pulang ke rumah. Namun, masa pemulihan tersebut tidak berlangsung lama karena pada hari Jumat, dua hari sebelum almarhum meninggal dunia, kesehatannya kembali merosot tajam.
Kronologi penurunan kondisi tersebut bertepatan saat Fitri Carlina sedang berada jauh di Jeddah. Informasi mengejutkan itu datang dari saudaranya, Mbak Wiwi, yang mengabarkan bahwa almarhum harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat denyut nadi yang turun drastis hingga menyentuh angka 30 detak per menit.
Fitri Carlina mengenang momen mendebarkan saat menerima kabar darurat tersebut melalui sambungan komunikasi jarak jauh.
“Kemarin kan hari Jumat, pas mau jumatan Mbak Wiwi ngabarin kalau Bapak harus ke IGD. Dari situ feeling aku udah enggak enak sih, apalagi dikasih tahu kalau nadinya udah sampai 30, udah sampai drop banget,” tutur Fitri Carlina.
Momen Terakhir Almarhum Sebelum Berpulang
Pada hari Sabtu, beberapa jam sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, almarhum sempat menunjukkan respons positif saat dibesuk oleh keluarga. Mendiang masih mampu berkomunikasi secara lancar dan bahkan sempat membersihkan diri di ruang perawatan. Tanda-tanda kebaikan tersebut sempat memberikan harapan bagi pihak keluarga yang terus mendampingi.
Kronologi peristiwa berlanjut saat jam besuk berakhir dan sang istri bersama Mbak Wiwi meninggalkan ruangan untuk membeli obat-obatan di apotek. Saat itulah tim medis menghubungi keluarga dan memberitahukan bahwa kondisi almarhum mendadak berubah menjadi sangat kritis.
Nini Carlina mengingat kembali kepanikan yang terjadi saat kabar kondisi kritis tersebut diterima secara mendadak oleh keluarga.
“Ternyata kemarin jam 12.00 siang pada waktu dibesuk Papa masih ngobrol, masih membersihkan diri. Begitu jam besuk habis, Mama sama adik kami Mbak Wiwi sedang ke apotek beli obat, tahu-tahu kita ditelepon katanya Papa kritis,” kenang Nini.
Keputusan Keluarga Mengikhlaskan Tanpa CPR
Melihat kondisi detak jantung almarhum yang kian melemah, tim dokter RS Mitra Keluarga Cibubur sempat menawarkan tindakan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru untuk memicu kembali detak organ vital tersebut. Namun, tindakan resusitasi fisik pada pasien lansia berisiko tinggi menimbulkan cedera fisik seperti patah tulang rusuk.
Setelah berdiskusi secara mendalam, seluruh anggota keluarga sepakat untuk menolak tindakan CPR dan memilih untuk mengikhlaskan kepergian almarhum secara alamiah dan tenang. Keputusan tersebut diambil demi menjaga kenyamanan almarhum agar tidak merasa kesakitan di detik-detik terakhir hidupnya.
Fitri Carlina menceritakan pertimbangan emosional keluarga hingga akhirnya merelakan kepergian sang ayah tercinta.
“Dokter katanya mau CPR, tapi kalau dipaksakan untuk CPR itu takutnya rusuknya nanti patah, detak jantungnya juga udah sangat lemah. Terus ya memang kita udah sepakat sekeluarga untuk mengikhlaskan, alhamdulillah Bapak berpulangnya tenang banget, kayak lagi tidur aja,” tutup Fitri.
Kronologi Pembawaan Dan Pemakaman Jenazah
Perjalanan akhir almarhum H. Tasrun Hadinoto bin Asir dirangkai dalam urutan kejadian dari rumah sakit hingga tempat peristirahatan terakhir.
- Sabtu (7/11/2026) pukul 14.15 WIB: Almarhum dinyatakan mengembuskan napas terakhir pada usia 84 tahun saat menjalani perawatan medis di RS Mitra Keluarga Cibubur.
- Sabtu (7/11/2026) sore: Jenazah dipindahkan dari rumah sakit menuju rumah duka di kawasan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, untuk disemayamkan dan disucikan.
- Sabtu (7/11/2026) malam: Pelayat dari kalangan kerabat, tetangga, hingga rekan sesama seniman mendatangi rumah duka untuk menyampaikan duka cita dan mendoakan almarhum.
- Minggu (8/11/2026) pagi: Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju lokasi pemakaman dengan diiringi rombongan keluarga besar.
- Minggu (8/11/2026) pagi: Prosesi pemakaman dilaksanakan secara khidmat di TPU Cikeas Udik, Kabupaten Bogor, dihadiri oleh Nini Carlina, Fitri Carlina, serta sanak keluarga.
Seluruh prosesi pemberangkatan hingga penghormatan terakhir berlangsung dengan tertib dan lancar berkat dukungan dari masyarakat serta kerabat terdekat. Pihak keluarga besar menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas ucapan duka dan doa yang terus mengalir dari berbagai pihak untuk almarhum H. Tasrun Hadinoto bin Asir.