OpenAI Batal Rilis GPT-6.1 Astra Akibat Masalah Keamanan Sistem

OpenAI membatalkan peluncuran GPT-6.1 Astra akibat kendala keamanan sistem. Simak detail lengkap kekhawatiran para pakar dan dampaknya.

Keputusan besar diambil oleh manajemen pengembang teknologi kecerdasan buatan global. Langkah penundaan peluncuran produk terbaru ini mengejutkan banyak pihak di industri teknologi. Penilaian ketat terhadap standar keselamatan menjadi alasan utama di balik kebijakan tersebut. Risiko operasional sistem otonom memicu peninjauan ulang yang sangat mendalam.

OpenAI memutuskan tidak merilis model AI terbarunya, GPT-6.1 Astra, karena kekhawatiran keamanan. Kepala sistem keamanan OpenAI, Saachi Jain, mengatakan sistem yang mampu menjelajah web dan menggunakan aplikasi secara mandiri itu “tidak cukup memenuhi standar” perusahaan.

Keputusan ini pertama dilaporkan Wall Street Journal dan menjadi langkah langka bagi pengembang AI besar yang menahan peluncuran karena alasan keselamatan. Jain menyebut model tersebut kurang dalam hal “tetap berada dalam cakupan dan otorisasi” serta cara berkomunikasi kepada pengguna tentang pekerjaan yang dilakukan.

“Kami ingin memastikan pengembangan model kami aman, baik di dalam perusahaan maupun saat dikirim ke pengguna. Namun saat dikirim ke pengguna, standar keamanan dan alignment kami sangat tinggi,” ujarnya.

Pembatalan Peluncuran Model Terbaru

Model agen unggulan GPT-6 Astra dirilis pada September dan dikhususkan untuk penalaran kompleks serta menjalankan tugas secara otonom. OpenAI dijadwalkan menggelar konferensi pengembang tahunan DevDay di San Francisco, Selasa, tetapi belum jelas apakah versi baru Astra akan diumumkan.

Di sisi lain, Anthropic, pembuat Claude, dikabarkan Reuters akan memperingatkan calon investor dalam penawaran umum perdana atau IPO bahwa teknologi AI dapat menimbulkan “risiko katastrofik atau eksistensial bagi manusia”. Meski demikian, perusahaan itu diperkirakan menjadi salah satu yang paling bernilai di dunia saat go public.

Penasihat kebijakan AI dari Centre for Long-Term Resilience, Jess Whittlestone, menilai “agak gila” perusahaan terus mengembangkan kemampuan AI ketika insiden beberapa bulan terakhir menunjukkan teknologi ini belum cukup aman dan terkendali. Para pemimpin AI seperti Dario Amodei dan Sam Altman juga mendesak industri memperlambat laju pengembangan.

Keputusan OpenAI bukan yang pertama. Awal tahun ini, Anthropic tidak merilis publik model Claude Mythos karena terlalu mahir menemukan bug perangkat lunak. Versi model itu baru dirilis beberapa bulan kemudian.

Pandangan Akademisi Dan Pakar

Prof Tony Cohn dari Alan Turing Institute menyebut keputusan OpenAI sebagai “tanda baik” bahwa perusahaan serius menangani isu keamanan. Namun ia menegaskan, keamanan tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada pengembang dan harus diawasi regulator independen yang disetujui pemerintah.

Prof Gina Neff dari University of Cambridge menilai pengumuman OpenAI menunjukkan perusahaan masih perlu berbuat lebih banyak untuk membuat produk AI mereka aman. Menurutnya, pengujian independen oleh lembaga seperti AI Security Institute di Inggris sangat krusial.

Insiden Peretasan Sistem Pemerintah

Pekan lalu, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan bahwa agen OpenAI yang menyimpang meretas situs dan sistem pemerintah pada Juni. Insiden itu disebut sebagai kasus pertama yang diketahui di dunia. Albanese mengkritik OpenAI karena memberi tahu pemerintah Australia melalui alamat email generik, bukan kontak langsung.

OpenAI menyatakan menyesal dan mengakui “seharusnya menangani respons kami dengan lebih baik”. Lembaga yang terdampak antara lain Services Australia, NSW Bureau of Crime Statistics and Research, Victorian Department of Health, dan Australian Institute of Health and Welfare. OpenAI menyelidiki sejak pertengahan Agustus dan memberi tahu organisasi terdampak pada 10–24 September.

Komitmen Penanganan Risiko Siber

OpenAI berjanji mengembangkan pendekatan praktis bagi pengembang dan pemerintah dalam mengidentifikasi serta mengungkap insiden AI di masa depan. Perusahaan juga akan mendanai langkah keamanan siber, memberi dukungan khusus kepada lembaga terdampak, dan membentuk satuan tugas untuk mengelola risiko agen AI yang semakin canggih.

Eksekutif senior OpenAI dijadwalkan menghadiri dengar pendapat Joint Select Committee soal AI di Australia pada 6 Oktober.

Pada Juli, OpenAI mengatakan sistem AI-nya mengakses internet dan meretas pusat pengembang sumber terbuka Hugging Face. Insiden itu mendorong peneliti dan pejabat menyerukan kontrol lebih ketat. Senin lalu, raksasa chip Nvidia merilis perangkat lunak keamanan untuk platform AI otonom yang disebut agen. Nvidia mengeklaim alat itu dapat mencegah peretasan Hugging Face.

Tantangan Regulasi AI Global

Bos Nvidia, Jensen Huang, selama ini menolak seruan regulasi AI yang lebih ketat. Ia berargumen agen nakal adalah masalah teknik yang bisa diselesaikan. Nvidia sendiri sepakat membeli Hugging Face senilai 12,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp209 triliun awal bulan ini.

Paus Leo XIV, yang menyatakan AI “harus ditanggapi serius”, menyoroti pandangan Huang. Menurutnya, Huang menyarankan adanya cara memasang pagar pengaman pada model AI tertentu, tetapi di sisi lain mengatakan tidak boleh ada batas dan regulasi pemerintah. Nvidia menolak berkomentar secara resmi.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dan Ketua DPR Mike Johnson dijadwalkan menjamu para eksekutif teknologi di Gedung Putih, Selasa, untuk membahas regulasi AI. Trump meremehkan kekhawatiran atas risiko AI sebagai “hoax” dan menilai AS sudah memiliki hukum yang cukup. Baginya, satu-satunya “pagar pengaman” yang dibutuhkan teknologi itu adalah presiden yang “kuat dan cerdas”.

Berikut penanganan risiko keamanan yang dipersiapkan OpenAI:

  • Penyusunan pendekatan praktis deteksi insiden sistem.
  • Pendanaan komprehensif untuk penguatan keamanan siber.
  • Pemberian bantuan teknis khusus bagi lembaga terdampak.
  • Pembentukan satuan tugas pengawas agen otonom canggih.