Dampak perundungan yang menimpa aktor muda Yusuf Kartiko berujung pada keretakan hubungan dengan sang ibu kandung, Zarima Mirafsur. Usai menjadi saksi dalam kasus Betrand Peto, masa lalu Zarima yang pernah mendapat julukan ‘Ratu Ekstasi’ mendadak kembali diungkit oleh warganet di media sosial.
Serangan verbal yang dilancarkan akun-akun tak bertanggung jawab tersebut membuat mental Yusuf tertekan hebat. Sang aktor muda bahkan memilih untuk mendiamkan ibunya selama beberapa hari akibat beban psikologis yang harus ditanggungnya.
Menghadapi situasi tersebut, Zarima yang lama memilih diam akhirnya pasang badan. Model era 1990-an ini mengambil tindakan tegas demi memulihkan nama baik sang anak serta menyembuhkan luka dalam hubungan keluarga mereka.
Beban Mental Dan Aksi Bisu Yusuf Kartiko
Yusuf Kartiko merasa sangat terpukul ketika rekam jejak kelam masa lalu ibunya dijadikan senjata oleh warganet untuk menyerangnya. Tekanan publik ini memicu keretakan singkat dalam komunikasi ibu dan anak.
Zarima menceritakan secara terbuka momen menyedihkan ketika komunikasi dengan buah hatinya sempat terputus akibat tekanan mental tersebut.
“Memang sempat Yusuf sedikit ngambek ya, sama saya tidak ngomong berhari-hari beberapa hari ya, sejak ada kejadian bahwa ya itu akun-akun itu yang telah mengaitkan dengan masa lalu saya kepada anak-anak saya,” kata Zarima Mirafsur saat ditemui di Polda Metro Jaya, Kamis (15/10/2026).
Alasan Zarima Merahasiakan Status Ibu Kandung
Selama Yusuf merintis karier di industri akting, Zarima sengaja menahan diri untuk tidak pernah mengumbar statusnya sebagai ibu kandung. Langkah tersebut diambil demi memberi ruang bagi sang anak untuk bertumbuh secara mandiri berdasarkan bakatnya sendiri.
Zarima tak ingin nama besarnya maupun rekam jejak masa lalunya membebani langkah sang putra di dunia hiburan. Ia ingin Yusuf dikenal dan dihargai murni karena prestasi serta kemampuan seni perannya.
Keputusan untuk merahasiakan hubungan darah ini awalnya dibuat untuk melindungi Yusuf. Namun, situasi tak terduga justru membuat masa lalunya dijadikan alat oleh pihak tak bertanggung jawab untuk memojokkan sang anak.
Laporan Polisi Tanpa Diskusi Demi Membela Anak
Melihat putranya terus dipojokkan dan dituduh mengonsumsi narkotika, Zarima memutuskan untuk bertindak cepat. Tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Yusuf, ia mendatangi Polda Metro Jaya bersama tim kuasa hukum untuk mempolisikan akun-akun penyebar fitnah.
Langkah hukum tersebut ditempuh murni atas dorongan naluri seorang ibu yang tak tega melihat anaknya dizalimi.
“Untuk hal ini saya tidak konsultasi dengan Yusuf karena ini murni memang saya sebagai seorang ibu berkewajiban untuk membela hak dan kepentingan anak saya, Yusuf Kartiko, yang namanya sudah dicemarkan dan difitnah, dituduh memakai narkoba,” tegasnya.
Bukti Cinta Dan Pasang Badan Seorang Ibu
Pelaporan resmi ke pihak kepolisian merupakan wujud nyata pembuktian rasa cinta dan tanggung jawab Zarima sebagai orang tua. Ia ingin Yusuf menyadari bahwa ibunya selalu siap berdiri paling depan untuk melindunginya.
Bagi Zarima, menyaksikan anak yang tidak bersalah menjadi korban tuduhan kejam adalah ujian yang sangat berat bagi batin seorang ibu. Keputusannya melapor ke polisi dipanggil oleh hati nurani untuk memulihkan martabat serta masa depan putranya.
Ia berharap langkah hukum ini dapat menjadi jawaban atas keraguan dan beban mental yang sempat menggelayuti perasaan Yusuf.
Harapan Pemulihan Nama Baik Dan Hubungan Keluarga
Tindakan tegas Zarima menjadi sinyal kuat bahwa fitnah terhadap anaknya tidak akan dibiarkan begitu saja. Proses hukum yang kini berjalan diharapkan dapat memberi efek jera bagi para pelaku perundungan di media sosial.
Selain memulihkan nama baik Yusuf Kartiko di mata publik, langkah ini juga perlahan mencairkan suasana dalam hubungan ibu dan anak. Kebenaran yang diperjuangkan menjadi perekat kembali komunikasi yang sempat renggang.
Keberanian Zarima pasang badan membuktikan bahwa kasih sayang seorang ibu mampu menerobos benteng ujian paling berat sekalipun.