Viral Tuding Sapaan ‘Halo Kak’ Sebagai Catcalling, Akun Pengguna X Ini Hilang Usai Dikritik Netizen

Seorang pengguna media sosial menuai kritik tajam usai menuding sapaan 'Halo Kak' dari warga sebagai tindakan mengganggu. Akun miliknya kini menghilang.

Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh perdebatan hangat mengenai etika berinteraksi di ruang publik serta batasan antara kesopanan dan tindakan mengganggu. Sorotan publik tertuju pada sebuah unggahan viral di platform X (sebelumnya Twitter) yang memicu gelombang kritik dari para pengguna internet.

Kejadian berawal ketika seorang wanita pemilik akun @shifanistt membagikan sebuah rekaman video singkat melalui akun pribadinya. Dalam video tersebut, ia merekam dua orang warga yang sedang duduk santai di pinggir jalan. Menurut pengakuannya, momen itu diambil ketika dirinya selesai berolahraga di tempat kebugaran dan hendak membeli makanan di warteg setempat.

Tudingan ‘Musang’ dan Sapaan Warga

Melalui keterangan tertulisnya, pengunggah meluapkan prasangka buruk dan kekesalannya terhadap keberadaan kedua warga tersebut. Ia meminta pengikutnya memperhatikan gerak-gerik mata warga dalam video dan tanpa ragu menyematkan sebutan ‘musang’ kepada mereka. Tak hanya itu, ia juga menuliskan narasi defensif mengenai pakaian olahraga yang digunakannya agar tidak disalahkan oleh publik.

Unggahan tersebut lantas mengundang perhatian luas dari warganet yang menyaksikan video secara utuh. Fitur catatan komunitas atau Community Notes di platform tersebut bahkan menyertakan informasi tambahan bahwa bapak-bapak dalam video hanya menjalankan budaya senyum dan sapa khas masyarakat Indonesia. Pria tersebut diketahui hanya menyapa secara ramah dengan kalimat “Halo Kak” ketika menyadari ada kamera yang mengarah kepadanya.

Gelombang Reaksi dan Implikasi

Respons negatif langsung berbalik mengarah kepada pemilik akun. Publik menilai bahwa tindakan mengambil video warga tanpa izin lalu melabelinya dengan sebutan tidak sopan seperti ‘musang’ merupakan bentuk perbuatan yang merendahkan. Banyak pihak berpendapat bahwa sapaan “Halo Kak” yang diucapkan warga tersebut murni respons wajar atas gestur pengunggah yang terlebih dahulu mengarahkan kamera dan melirik ke arah mereka.

Kritik pedas terus membanjiri kolom komentar karena publik menganggap pengunggah terlalu berlebihan dalam mengartikan sebuah interaksi sosial yang sederhana. Sapaan hangat yang menjadi bagian dari kearifan lokal justru disalahartikan sebagai tindakan pelecehan verbal atau catcalling.

Akun Pengunggah Akhirnya Lenyap

Akibat derasnya kritik dan desakan dari berbagai pihak yang merasa prihatin atas nasib warga dalam video, akun @shifanistt dilaporkan sudah tidak dapat ditemukan lagi di platform X. Saat dicari oleh pengguna lain, halaman profil tersebut telah berubah menjadi tampilan kosong dengan keterangan bahwa akun tidak ada atau telah dihapus.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pengguna media sosial agar senantiasa bijak dalam membuat konten di area publik. Menghargai keberadaan orang lain dan tidak terburu-buru menghakimi interaksi sosial di dunia nyata merupakan hal mendasar yang harus dijaga demi menciptakan ruang digital yang sehat dan beretika