Profil Kompol Aditia Mulya Ramadhani Perwira Wonogiri Meninggal Usai 7 Tahun Koma

Profil Kompol Aditia Mulya Ramadhani eks Kasat Reskrim Wonogiri yang meninggal usai koma 7 tahun. Simak rekam jejak pengabdian almarhum di sini.

Kabar duka yang mendalam merundung institusi kepolisian serta masyarakat Jawa Tengah atas berpulangnya seorang perwira terbaik. Perjuangan panjang bertaruh nyawa selama bertahun-tahun akhirnya mencapai titik peristirahatan terakhir.

---Advertisement---

Kisah pengabdian tulus serta keteguhan almarhum dalam menjalankan tugas negara menyisakan luka sekaligus rasa hormat yang mendalam. Ulasan mengenai profil Kompol Aditia Mulya Ramadhani menjadi potret nyata dedikasi tinggi seorang abdi negara hingga akhir hayatnya.

Biodata Singkat Almarhum Perwira Polsek

Mantan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonogiri Kompol Aditia Mulya Ramdhani mengembuskan napas terakhirnya pada Senin 26 Oktober 2026. Almarhum tutup usia setelah berjuang melewati kondisi tidak sadarkan diri selama tujuh tahun sejak insiden penganiayaan pada tahun 2019.

Semasa hidupnya perwira menengah ini pernah menduduki sejumlah posisi penting di lingkungan Polda Jawa Tengah termasuk sebagai Kapolsek Pasar Kliwon Solo. Kenaikan pangkat menjadi Komisaris Polisi diterima almarhum pada September 2019 melalui keputusan resmi pucuk pimpinan kepolisian nasional.

Penetapan kenaikan pangkat tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Kapolri Nomor Kep/918/IX/2019 atau Kep/918 N/2019 sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian tugasnya. Pangkat satu melati emas di pundak menandai posisi perwira menengah yang diembannya sewaktu bertugas di lapangan.

---Advertisement---

Almarhum mengakhiri masa pengabdiannya dengan meninggalkan seorang istri bernama Setyowati serta dua orang anak yang terdiri dari seorang putra dan putri. Jenazah kemudian diantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir di kampung halaman keluarga di Kabupaten Klaten.

Berikut daftar identitas serta riwayat rekam jejak almarhum:

  • Informasi identitas dan rekam jejak almarhum perwira kepolisian.
  • Nama lengkap Komisaris Polisi Aditia Mulya Ramdhani.
  • Pangkat terakhir Ajun Komisaris Besar Polisi Anumerta.
  • Jabatan terakhir Kaurinti Subbidtekinfo Bid TIK Polda Jawa Tengah.
  • Jabatan terdahulu Kasat Reskrim Polres Wonogiri.
  • Tempat pemakaman TPU Tegal Binangun Kabupaten Klaten.

Pengabdian Humanis Di Lapangan Kerja

Semasa memimpin di wilayah hukum Solo dan Wonogiri almarhum dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang bersahaja serta tidak membuat sekat dengan bawahan. Pendekatan sosial yang luwes membuat kehadiran almarhum selalu diterima dengan hangat oleh berbagai kalangan masyarakat setempat.

Mantan rekan sejawat Ipda Suhartaka mengenang almarhum sebagai figur perwira yang memiliki perhatian sangat besar terhadap kondisi para anggotanya. Almarhum selalu aktif menghadiri berbagai kegiatan kemasyarakatan serta membangun silaturahmi yang erat dengan para tokoh agama di wilayah tugasnya.

Kedekatan sosial tersebut disampaikan secara mendalam oleh mantan bawahannya saat memberikan penuturan kenangan masa lalu. “Bersahaja, sederhana, dekat dengan masyarakat dan tokoh-tokoh agama, sangat peduli dengan anggota.” “Aktif dalam kegiatan di kewilayahan Polsek Pasar Kliwon,” urai eks Kanitreskrim Polsek Pasar Kliwon dikutip dari TribunSolo.com, Senin (26/10/2026).

Karakter kepemimpinan yang merakyat juga diakui oleh Aiptu Saimun yang pernah bertugas bersama almarhum di Polsek Pasar Kliwon. Almarhum tidak ragu untuk mengajak seluruh personelnya berbaur dan melakukan kegiatan kebersamaan guna mempererat keakraban internal. “Kapolsek baru pertama kali itu ngajak dolan bareng anggota yo Pak Adit ini, luar biasa,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Salah satu momen memorable terjadi saat timbul penolakan warga bantaran sungai terhadap proyek pembangunan penutupan tanggul. Almarhum turun langsung ke lokasi membonceng sepeda motor bawahannya untuk menemui tokoh warga bernama Pak Budi Tato guna mendinginkan suasana.

---Advertisement---

Aiptu Saimun mengenang keberanian serta keluwesan almarhum dalam menyelesaikan potensi konflik sosial di wilayah pemukiman warga tersebut. “Dia nyambangi warga bantaran yang di buat parkiran rosok-rosok itu, nemui Pak Budi Tato namanya. Jadi di sana jam 10.30, jam 11.30, itu ngajak main ke sana, terus ngobrol yang intinya meredam warga sana,“ kenangnya.

Keteladanan dalam berkomunikasi dengan warga meninggalkan kesan mendalam bagi jajaran anggota kepolisian yang pernah mendampinginya. “Itu baru sekali itu Kapolsek sampai sekarang ini, saya sudah 26 tahun di Pasar Kliwon ya baru beliau ini.” “Bisa ngejak dolan bareng anggota, baru itu menurut saya Kapolsek, dua bus (diajak dolan),” katanya.

Tragedi Pengeroyokan Massa Di Wonogiri

Peristiwa memilukan yang menghentikan karier lapangan almarhum terjadi pada sebuah Sabtu malam menjelang Minggu di bulan Mei 2019. Kala itu almarhum yang menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Wonogiri turun langsung ke lokasi bentrokan untuk melerai pertikaian antar perguruan silat.

Niat tulus untuk menjaga keamanan wilayah justru berujung musibah ketika massa secara anarkis menyerang petugas yang berada di lokasi. Almarhum menjadi korban pengeroyokan brutal hingga mengalami cedera parah pada bagian kepala dan langsung kehilangan kesadaran seketika.

Penanganan medis darurat segera dilakukan dengan melarikan almarhum ke RSU Dr. Oen Sukoharjo untuk perawatan intensif di ruang ICU. Kondisi fisik yang sangat parah membuat tim medis merujuk almarhum ke rumah sakit Singapura guna menjalani tindakan operasi pada sistem saraf otak.

Tragedi Pengeroyokan Massa Di Wonogiri
Tragedi Pengeroyokan Massa Di Wonogiri

Setelah menjalani perawatan medis di luar negeri almarhum dipulangkan ke kediaman pribadinya di Kota Semarang untuk perawatan jangka panjang. Aiptu Saimun membenarkan alur perawatan rumah yang dijalani almarhum bersama keluarga tercinta. “(Setelah dari Singapura) dibawa ke kediamannya di Semarang. Saya belum (sempat menjenguk), tetapi kalau perwakilan Ibu Bhayangkari kan pada ke sana,” ujar Saimun.

Pihak aparat penegak hukum Polda Jawa Tengah bertindak tegas dengan memproses penanganan perkara pidana pengeroyokan tersebut. Sebanyak sembilan orang ditetapkan sebagai tersangka utama dari puluhan orang yang diperiksa atas keterlibatan langsung dalam aksi penganiayaan berat tersebut.

Penghormatan Terakhir Kedinasan Kepolisian Negara

Perjuangan fisik selama tujuh tahun terbaring dalam kondisi medis terbatas akhirnya berakhir pada Senin 26 Oktober 2026 dini hari. Berita kepulangan almarhum menyebarkan duka mendalam bagi jajaran kepolisian daerah Jawa Tengah serta kerabat dekat yang mendampingi.

Rombongan jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Semarang menuju TPU Tegal Binangun Desa Karanganom Kecamatan Klaten Utara Kabupaten Klaten. Kedatangan iring-iringan jenazah di area pemakaman pada sore hari disambut isak tangis keluarga dan rekan sejawat.

Prosesi pemakaman dilaksanakan melalui upacara tata cara kedinasan kepolisian yang dipimpin langsung oleh Wakapolresta Klaten AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama. Suasana haru membuncah saat sang istri Setyowati mendapat pendampingan serta pelukan hangat dari jajaran anggota Bhayangkari di lokasi pemakaman.

Sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas pengorbanan jiwa dan raga dalam tugas negara institusi memberikan kenaikan pangkat anumerta. Pangkat almarhum resmi dinaikkan satu tingkat lebih tinggi dari Komisaris Polisi menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi Anumerta.