Kepanikan kecil kerap melanda para pemilik tabungan saat grafik investasi kesayangan mendadak berbalik arah secara tak terduga. Penurunan nilai logam mulia selalu menjadi momen mendebarkan yang memaksa setiap investor untuk mengevaluasi ulang portofolio keuangan mereka.
Ketidakpastian ekonomi global membuat keputusan membeli atau menjual aset menjadi sangat menentukan nasib finansial di masa depan. Keputusan cepat tanpa dasar informasi yang akurat berisiko menimbulkan kerugian besar di tengah situasi pasar yang sangat dinamis.
Rincian Penurunan Harga Emas Antam
Pergerakan nilai logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk mengalami koreksi yang lumayan signifikan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan pantauan langsung dari laman resmi Logam Mulia di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026 pukul 09.01 WIB, Harga Emas Antam terkoreksi sebesar Rp 11.000. Penurunan tersebut menempatkan nilai emas berada di posisi Rp 2.559.000 per gram dari sebelumnya yang sempat bertahan di angka Rp 2.570.000 per gram.
Tren penurunan ini juga berdampak langsung pada nilai transaksi jual kembali atau buyback yang disediakan oleh pihak pengelola. Harga buyback tercatat ikut terperosok ke tingkat Rp 2.354.000 per gram. Koreksi searah ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global yang sedang mengalami penyesuaian nilai secara komprehensif.
Meskipun grafik angka telah dirilis resmi, masyarakat tetap perlu menyadari bahwa patokan nominal tersebut dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar. Fluktuasi harian menjadi hal yang wajar dalam dunia perdagangan komoditas bernilai tinggi.
Di samping pergerakan nominal dasar, terdapat ketentuan perpajakan yang wajib diperhatikan oleh para pemilik modal. Setiap transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10.000.000 bakal dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen. PPh Pasal 22 tersebut dipotong langsung dari total nilai transaksi pada saat pelaksanaan buyback.
Aturan perpajakan juga berlaku secara mengikat bagi masyarakat yang berniat menambah koleksi emas batangan. Adapun pembelian emas Antam dikenakan PPh sebesar 0,25 persen dari harga dasar yang tertera di laman resmi.
Daftar Lengkap Pecahan Emas Batangan
Masyarakat yang berminat melakukan investasi perlu mencermati rincian nominal untuk setiap ukuran unit yang ditawarkan. Variasi ukuran gramasi memberikan fleksibilitas bagi para pembeli sesuai dengan kapasitas dana yang dimiliki.
Pilihan gramasi terkecil hingga terbesar tersedia untuk memenuhi kebutuhan simpanan jangka panjang maupun jangka pendek. Berikut adalah rincian patokan harga dasar emas batangan yang berlaku secara resmi:
| Ukuran Emas | Harga Resmi (Rp) |
| 0,5 gram | 1.329.500 |
| 1 gram | 2.559.000 |
| 2 gram | 5.058.000 |
| 3 gram | 7.562.000 |
| 5 gram | 12.570.000 |
| 10 gram | 25.085.000 |
| 25 gram | 62.587.000 |
| 50 gram | 125.095.000 |
| 100 gram | 250.112.000 |
| 250 gram | 625.015.000 |
| 500 gram | 1.249.820.000 |
| 1.000 gram | 2.499.600.000 |
Pemilihan pecahan emas batangan idealnya disesuaikan dengan tujuan alokasi aset. Pembelian pecahan yang lebih besar umumnya menawarkan efisiensi nilai per gram yang lebih menguntungkan bagi investor.
Tersedianya jajaran pecahan ini mempermudah pencatatan portofolio keuangan harian secara lebih rapi. Pemantauan harga pecahan secara berkala menjadi kunci dalam mengeksekusi pembelian pada momentum yang tepat.
Proyeksi Pergerakan Pasar Logam Mulia
Melihat kondisi terkini, para pengamat pasar memperkirakan bahwa pergerakan nilai logam mulia masih akan melanjutkan tren pelemahan sepanjang pekan ini. Estimasi nilai emas batangan diperkirakan bakal bergerak dalam rentang Rp 2,39 juta hingga Rp 2,69 juta per gram.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menerangkan, pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga emas dunia berada di posisi 3.997 dolar AS per troy ounce. Jika mengalami koreksi, level support pertama harga emas dunia berada di posisi 3.951 dolar AS per troy ounce.
Ibrahim juga memberikan kalkulasi batas bawah terendah yang berpotensi tersentuh dalam kurun waktu sepekan. “Kemudian dalam satu minggu apabila terkoreksi, itu di 3.884 dolar AS per troy ounce. Ini kemungkinan kalau kena, menjadi yang terendah di (dibandingkan) 2025–2026,” kata Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Ahad (25/10/2026).
Namun peluang penguatan pasar tetap terbuka lebar jika momentum pemulihan mulai terbentuk. Sementara itu, jika mengalami penguatan, level resistance pertama harga emas dunia berada di 4.053 dolar AS per troy ounce. Dalam sepekan, apabila menguat, harganya bisa menuju 4.138 dolar AS per troy ounce.
Kondisi tersebut selaras dengan pergerakan acuan komoditas lokal pada penutupan pekan sebelumnya. Adapun harga logam mulia pada akhir pekan lalu ditutup di posisi Rp 2,525 juta per gram. Menurut prediksinya, jika mengalami koreksi, harga logam mulia akan bergerak menuju Rp 2,505 juta per gram. Dalam sepekan ke depan, jika melemah, harganya kemungkinan turun ke posisi Rp 2,39 juta per gram.
Peluang lonjakan kembali diproyeksikan dapat menembus batas atas jika sentimen positif kembali mendominasi. Sebaliknya, jika mengalami penguatan, level resistance pertama harga logam mulia berada di Rp 2,545 juta per gram.
Dalam sepekan ke depan, apabila menguat, harga logam mulia bisa menyentuh Rp 2,69 juta per gram. “Jadi, harga emas dunia pada minggu depan kemungkinan ditransaksikan di 3.884 dolar AS–4.138 dolar AS per troy ounce. Kemudian logam mulia sendiri kemungkinan ditransaksikan di Rp 2,39 juta–Rp 2,69 juta per gram,” jelasnya.
Pengaruh Geopolitik Terhadap Nilai Logam
Seiring dengan prediksi tersebut, Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS pada perdagangan pekan depan bergerak di kisaran 100,90–103,10. Artinya, pada pekan terakhir Oktober 2026, indeks dolar AS diperkirakan masih akan terus menguat. Untuk harga minyak mentah dunia, ia memproyeksikan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) akan terus menguat, yakni di kisaran 96,90–108,30 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent diperkirakan bergerak di atas 115 dolar AS per barel.
Adapun nilai tukar rupiah diperkirakan melemah seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah. Rupiah bahkan diperkirakan bisa mencapai Rp 18.200 per dolar AS. “Apa sih yang membuat harga emas dunia, logam mulia, kemudian rupiah, minyak mentah dunia, dan indeks dolar berfluktuatif? Salah satu penyebabnya adalah geopolitik,” tuturnya.
Ia menjelaskan, situasi geopolitik di kawasan Eropa Timur semakin memanas. Ukraina disebut telah memiliki kekuatan persenjataan yang cukup canggih sehingga bisa menyamai kekuatan rivalnya, Rusia. Ia memperkirakan peperangan tidak akan berakhir sebelum muncul tanda-tanda kesepakatan perdamaian. Di kawasan Timur Tengah, peperangan juga masih berlangsung.
Iran disebut akan semakin agresif menyerang kapal-kapal bisnis di Selat Hormuz apabila Amerika Serikat (AS) melakukan serangan. Iran juga disebut telah menyasar individu atau personel AS di Timur Tengah sehingga AS mengurangi jumlah diplomatnya di kawasan tersebut untuk kembali ke negara. Di sisi lain, Iran juga bersiap menghadapi perang terbuka dengan AS di Laut Oman.
“Artinya bahwa kemungkinan besar akan terjadi perang besar, perang darat antara Iran dan AS, tinggal menunggu waktu saja, karena di perbatasan Iran dengan Oman itu sudah menumpuk pasukan yang cukup besar, ribuan pasukan,” jelasnya.
Peperangan juga masih berlangsung antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi. Houthi disebut terus menyerang kilang-kilang minyak Arab Saudi, yang membuat harga minyak terus meningkat karena produksi mengalami penurunan.
Di Afrika, Libya disebut menghentikan produksi minyak akibat sabotase. Libya diketahui merupakan salah satu negara penghasil minyak mentah berkualitas tinggi, yaitu minyak mentah Brent. Penghentian produksi tersebut berpotensi mendorong harga Brent mencapai 115 dolar AS per barel, melampaui harga WTI yang diperkirakan hanya berada di posisi 108,30 dolar AS per barel.
“Secara geopolitik ini yang memantik harga emas dunia dan atau logam mulia terkoreksi. Kemudian harga rupiah juga mengalami pelemahan karena indeks dolar dan WTI crude oil kemungkinan besar akan terus mengalami kenaikan,” terangnya.
Ibrahim melanjutkan, kenaikan harga minyak mentah dunia menyebabkan inflasi meningkat, terutama di AS. Ia menyebut, meskipun Rusia telah mengirimkan solar dalam jumlah cukup besar ke AS dan Eropa, pasokan tersebut belum cukup untuk membantu menekan inflasi. “Inflasi tinggi ini ada kemungkinan besar membuat Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga, walaupun bukan di bulan Oktober tetapi di bulan November–Desember,” terangnya.
Meskipun data pengangguran pada Oktober sedikit menurun, yang mengindikasikan kondisi tenaga kerja cukup baik dan inflasi tidak terlalu tinggi, kondisi tersebut dinilai tidak fully sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga. “Mempertahankan suku bunga ini bukan berarti harga emas akan melonjak, tetapi emas masih akan terus terkoreksi karena tingginya harga indeks dolar,” tuturnya.
Di sisi lain, dinamika politik di AS semakin sengit antara Partai Republik dan Partai Demokrat di tengah kampanye Pemilu Sela. Ibrahim menuturkan, ada kemungkinan Partai Demokrat akan menguasai parlemen dan mengalahkan Partai Republik, partai yang menaungi Presiden AS Donald Trump. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat situasi politik di AS semakin memanas. Partai Demokrat diprediksi bakal melakukan pemakzulan terhadap Trump.
“Demokrat akan kembali melakukan impeachment terhadap Donald Trump, ini yang sebenarnya akan membuat harga emas nanti akan mengalami kenaikan, sehingga bulan November adalah bulan yang paling ditunggu oleh pasar ya tentang hasil dari Pemilu Sela di AS,” terangnya.
Faktor terakhir yang disorot adalah kondisi permintaan dan penawaran (demand and supply). Ibrahim mengatakan, bank sentral global maupun masyarakat telah memanfaatkan kesempatan ketika harga emas dunia dan logam mulia mengalami penurunan cukup signifikan. Setelah mengoleksi aset safe haven tersebut, mereka diharapkan memperoleh keuntungan ketika harga emas kembali meningkat.
“Ke depannya saya masih optimistis bahwa harga logam mulia maupun emas dunia masih akan terus naik. Kita tinggal menunggu bagaimana drama di Timur Tengah antara AS dan Iran selesai, drama antara Houthi dan Arab Saudi selesai, dan ini akan memicu lonjakan harga emas ke depannya. Tinggal tunggu waktu saja kalau seandainya sekarang mengalami koreksi, sangat wajar sekali karena harga minyaknya cukup tinggi, indeks dolar yang terus menaik, inflasi tinggi, sehingga orang mengalihkan dananya dari emas sebagai lindung nilai ke dolar AS maupun yield obligasi di AS,” tutupnya.