Harga Emas Dunia Ditutup Anjlok 4% Pekan Ini

Harga emas dunia ditutup melemah 4 persen ke level US$3.995 per ons. Penurunan mingguan terdalam ini dipicu kekhawatiran inflasi AS.

Kecemasan melanda para investor logam mulia setelah harga emas dunia mengalami pelemahan sangat tajam pada penutupan pekan ini. Kejadian tersebut mengakhiri tren positif yang sempat bertahan lama di pasar internasional.

Merosotnya nilai investasi ini tentu menjadi perhatian utama bagi siapapun yang menyimpan aset berharga tersebut. Ketidakpastian ekonomi global semakin menambah rasa khawatir para pemilik modal di berbagai negara.

Kondisi ini menegaskan betapa dinamisnya pergerakan aset aman di tengah perubahan situasi finansial global. Penurunan tajam tersebut mencatatkan rekor penurunan mingguan paling dalam selama beberapa bulan terakhir.

Catatan Pelemahan Emas Pekan Ini

Harga emas dunia menutup perdagangan pekan ini dengan koreksi sekitar 4 persen setelah kembali mengalami penurunan pada sesi perdagangan hari Jumat (23/10). Logam mulia ini mengakhiri masa perdagangan di bawah level psikologis US$4.000 per troy ons. Catatan tersebut sekaligus menjadi penurunan mingguan terdalam bagi pasar emas sejak Juni 2026.

Berdasarkan data historis transaksi XAU/USD dari laman Investing.com, posisi harga emas spot ditutup pada angka US$3.995,63 per troy ons. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,70 persen jika dibandingkan dengan posisi perdagangan hari sebelumnya di level US$4.023,91 per troy ons.

Apabila dibandingkan dengan harga penutupan Jumat pekan lalu sebesar US$4.165,50 per troy ons, harga emas dunia tercatat telah kehilangan nilai sebesar US$169,87. Penurunan tersebut setara dengan penyusutan sekitar 4,08 persen hanya dalam kurun waktu satu minggu perdagangan.

Kondisi tersebut membawa harga komoditas logam mulia ini menuju titik terendah dalam periode tiga bulan terakhir. Sepanjang sesi transaksi hari Jumat, pergerakan harga sempat menyentuh level terendah US$3.975,88 per troy ons sebelum akhirnya terjadi pemulihan terbatas jelang penutupan pasar. Memasuki hari Sabtu (24/10/2026), posisi harga tetap bertahan pada kisaran tersebut karena aktivitas pasar spot internasional berhenti beroperasi selama akhir pekan.

Rincian Harga Penutupan Harian

Tekanan terhadap pergerakan komoditas logam mulia ini sudah mulai terasa sejak awal pekan perdagangan. Pada hari Senin (19/10/2026), posisi harga resmi ditutup pada level US$4.140,87 per troy ons. Nilai tersebut sudah berada lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil akhir pekan sebelumnya.

Kondisi pelemahan masih berlanjut pada hari Selasa sebelum akhirnya sempat menguat tipis pada hari Rabu (21/10/2026). Namun, tren kenaikan tersebut tidak bertahan lama karena harga kembali merosot tajam pada dua sesi perdagangan berikutnya. Penurunan paling signifikan tercatat pada hari Kamis (22/10/2026) saat harga terkoreksi hingga 2,83 persen dalam sehari.

Proses pergerakan nilai komoditas ini selama satu pekan terakhir terekam secara jelas dalam catatan resmi:

  • Harga penutupan Jumat 16 Oktober 2026 berada di level US$4.165,50
  • Harga penutupan Senin 19 Oktober 2026 berada di level US$4.140,87
  • Harga penutupan Selasa 20 Oktober 2026 berada di level US$4.124,94
  • Harga penutupan Rabu 21 Oktober 2026 berada di level US$4.140,97
  • Harga penutupan Kamis 22 Oktober 2026 berada di level US$4.023,91
  • Harga penutupan Jumat 23 Oktober 2026 berada di level US$3.995,63

Faktor Pemicu Penurunan Harga

Mengutip laporan Reuters, tekanan berat terhadap pasar emas berkaitan erat dengan lonjakan harga energi yang kembali memicu kekhawatiran kenaikan tingkat inflasi di Amerika Serikat. Harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus angka tertinggi dalam durasi lebih dari lima bulan terakhir. Lonjakan tersebut terjadi menyusul adanya insiden serangan kelompok Houthi di wilayah Arab Saudi yang memunculkan kecemasan akan gangguan pasokan energi dunia.

Perkembangan situasi geopolitik ini memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve bakal mempertahankan kebijakan suku bunga ketat dalam rentang waktu lebih panjang. Kebijakan suku bunga tinggi selalu memberikan beban tersendiri bagi pasar emas karena aset fisik ini tidak memberikan imbal hasil imbalan bunga harian.

Kebutuhan Dana Likuid Investor

Selain isu lonjakan inflasi, penurunan harga saham sektor teknologi di bursa Wall Street turut memberikan guncangan negatif bagi pasar logam mulia. Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa aksi jual saham teknologi telah memicu margin call bagi sebagian pelaku pasar. Kondisi tersebut mendorong investor menjual kepemilikan emas dan perak untuk memenuhi kebutuhan dana.

Di sisi lain, tingkat permintaan fisik terhadap emas di India tercatat mengalami lonjakan di tengah penurunan harga selama perayaan Dussehra. Sementara itu, aktivitas pasar fisik di China cenderung stabil meskipun sebagian besar konsumen masih sangat berhati-hati saat membelanjakan dana untuk membeli perhiasan.

Arah Kebijakan Moneter Mendatang

Setelah mengakhiri pekan dengan koreksi tajam, fokus utama para pelaku pasar kini tertuju pada agenda penetapan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Bank sentral Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada tanggal 27 hingga 28 Oktober 2026 mendatang. Mayoritas pelaku pasar memprediksi lembaga keuangan tersebut masih akan menahan posisi suku bunga acuan.

Meski demikian, data angka inflasi tingkat konsumen maupun produsen yang keluar melampaui estimasi awal semakin meningkatkan spekulasi pengetatan moneter pada penghujung tahun. Para pemodal juga bakal mencermati publikasi laporan Personal Consumption Expenditures yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober 2026. Laporan ini menjadi rujukan indikator utama bagi penetapan arah kebijakan finansial.