Rans Carnival Maguwoharjo Ditinggal Musisi, Viral Rumor Cari Penonton Bayaran untuk Datang

Panggung Rans Carnival di Stadion Maguwoharjo sepi pengisi acara. Simak alur pembatalan musisi hingga pesan berantai mobilisasi warga Sleman.

Area Parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, yang tadinya disiapkan untuk panggung Rans Carnival pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 mendadak sepi dari keriuhan. Spanduk-spanduk panggung yang terpasang di pagar arena bahkan tampak dilepas dan diturunkan oleh warga setempat.

---Advertisement---

Gelombang pembatalan dari jajaran penampil utama meruntuhkan rencana panggung hiburan tersebut. Pemicunya berakar dari kontroversi kehadiran bos Rans Entertainment, Raffi Ahmad, dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran HI, Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).

Isu semakin memanas saat panggung di Sleman yang ditinggal penampil mendadak disusul tangkapan layar pesan berantai di media sosial. Pesan tersebut menginstruksikan pengerahan ratusan warga lokal dengan imbalan uang belanja sebesar Rp50.000 per orang demi mengisi area Stadion Maguwoharjo.

Gelombang Pembatalan Musisi di Rans Carnival

Rencana helatan Rans Carnival di Sleman hancur setelah jajaran grup musik mengumumkan aksi mundur secara beruntun. Keputusan ini disampaikan hanya beberapa hari sebelum jadwal penampilan mereka di atas panggung.

Grup musik Tipe-X menjadi salah satu penampil yang secara terbuka menyegel pengunduran diri mereka melalui kanal komunikasi resmi. Pernyataan singkat tersebut menegaskan pembatalan kehadiran mereka dalam festival tersebut.

---Advertisement---

“Kita mundur dari acara ini. Sampai jumpa di lain pesta,” tulis managemen Band Tipe-X di akun media sosial resminya, Sabtu (31/10/2026).

Langkah tegas Tipe-X disusul oleh deretan grup musik papan atas lainnya seperti Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, hingga Fourtune. Mereka memilih tidak naik panggung demi merespons kepekaan sosial masyarakat.

Alasan Kepekaan Sosial dan Sikap Para Musisi

Penolakan dari para musisi bertumpu pada empati terhadap situasi publik yang dinilai sedang sensitif. Grup musik dangdut akustik Guyon Waton menegaskan bahwa keputusannya berlandaskan aspek keamanan dan kenyamanan masyarakat.

“Melainkan lebih kepada aspek kondusivitas, keamanan, kenyamanan masyarakat serta potensi munculnya persepsi dan kesalahpahaman di tengah situasi publik yang sedang cukup sensitif,” tulis band yang dipimpin Faisal Bagus Ibrahim tersebut.

Penyanyi Ridho Nugroho atau Masdddho juga mengambil langkah serupa dengan menegaskan bahwa nilai musik berdiri bersama suara publik. Ia memilih mundur demi menghargai perjuangan masyarakat.

“Saya dan tim memutuskan untuk mengundurkan diri dari acara tersebut. Bagi kami, musik bukan sekadar hiburan dan panggung, bukan hanya tentang penampilan. Ada nilai, kepedulian, dan suara masyarakat yang juga perlu dihargai,” kata dia. “Panjang umur perjuangan.”

Langkah senada diambil OM Wawes melalui pimpinan Dhyen Ganjar Prabowo yang memilih tak ingin melukai perasaan warga. “Kami memutuskan untuk mundur dari event tersebut, kami tidak ingin melukai hati teman-teman semuanya,” tulis managemen.

---Advertisement---

Grup pop-jazz Fourtune turut menyampaikan permohonan maaf atas pembatalan panggung mereka. “Semoga ada kesempatan lain bagi kita untuk bertemu dan bernyanyi bersama di panggung berikutnya,” tulis Fourtune.

Imbas Kontroversi Sumpah Pemuda di Bundaran HI

Gelombang pengunduran diri para pengisi acara ini tak lepas dari gejolak yang menyeret nama Raffi Ahmad di Jakarta. Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa 2026 di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 menuai tuduhan sebagai upaya memecah konsentrasi gerakan mahasiswa.

Kegiatan tersebut berlangsung tepat sehari setelah ribuan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di lokasi yang sama di bawah guyuran hujan deras. Sorotan publik makin tajam ketika peserta acara terungkap melibatkan sosok mahasiswa palsu yang mengaku dibayar untuk mengenakan jaket almamater.

Menanggapi polemik yang berkembang, Raffi Ahmad menyampaikan klarifikasi resmi terkait keberadaannya di lokasi tersebut. Utusan Khusus Presiden bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni tersebut mengklaim tak mengetahui dan tak terlibat dalam teknis acara hingga pelibatan peserta.

Viral Pesan Berantai Mobilisasi Warga Sleman

Buntut dari sepinya acara usai ditinggal para musisi melahirkan polemik baru di wilayah Sleman. Beredar tangkapan layar pesan singkat yang viral dengan meminta jajaran lurah, dukuh, hingga Bhabinkamtibmas menggerakkan massa warga menuju Stadion Maguwoharjo.

Dalam pesan berantai tersebut, warga dijanjikan imbalan uang belanja atau uang saku sebesar Rp50.000 per orang untuk meramaikan acara di stadion. Pembagian uang tersebut disebutkan bakal disalurkan melalui jajaran kepolisian setempat.

Munculnya fenomena mobilisasi warga serta pencopotan spanduk panggung di lokasi menjadi gambaran nyata dinamika di lapangan. Rans Carnival di Maguwoharjo kini berdiri di tengah ujian besar akibat persinggungan dengan isu sensitivitas publik.