Daftar 9 Anggota AHWA Muktamar NU 2026 resmi ditetapkan setelah panitia menuntaskan seluruh proses rekapitulasi penghitungan suara. Tahapan pengumpulan suara ini berlangsung tertib pada helatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang bertempat di Jombang, Jawa Timur.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri KH. Nurul Huda Djazuli memimpin perolehan dukungan tertinggi dari total 4.703 suara muktamirin. Sembilan kiai sepuh ini mengantongi amanah penuh untuk menentukan figur Rais Aam PBNU pada periode kepengurusan selanjutnya.
Penetapan jajaran ulama ini membawa dampak langsung terhadap arah kebijakan spiritual serta kepemimpinan organisasi Islam terbesar di tanah air. Keputusan dari para ulama terkemuka ini akan memengaruhi agenda keummatan hingga tata kelola warga nahdliyin di tingkat tapak.
Hasil Musyawarah Ulama Sepuh NU
Sistem Ahlul Halli wal Aqdi menjadi mekanisme penentu dalam menjaga kesucian proses suksesi kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama. Forum musyawarah ini menyatukan para ulama yang memiliki integritas tinggi serta kedalaman ilmu agama.
Sebanyak 34 nama kiai sepuh muncul atas usulan para pengurus wilayah hingga pengurus cabang dari seluruh pelosok daerah. Panitia kemudian menghimpun seluruh kertas suara melalui enam daerah pemungutan untuk menentukan sembilan nama dengan dukungan terbanyak.
Para anggota terpilih diberi keleluasaan penuh untuk menggelar sidang tertutup dalam waktu dekat. Hasil permusyawaratan mereka bakal menentukan arah garis perjuangan PBNU di masa mendatang.
Dominasi Tokoh Pesantren dan Pakar Fiqih
KH. Nurul Huda Djazuli mengumpulkan total 485 suara atau setara 10,3 persen dari keseluruhan surat suara sah. Posisi berikutnya diisi oleh ulama kharismatik asal Aceh TGK. KH. Nuruzzahri Yahya yang meraup 477 suara atau 10,1 persen.
Ulama asal Sulawesi Selatan AG. Dr. KH. Baharuddin HS menyusul pada urutan ketiga dengan perolehan 392 suara. Sementara petahana Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar mengantongi 350 suara dari para utusan muktamar.
Pakar fiqih asal Situbondo KH. Afifuddin Muhajir meraih 339 suara dalam ajang penentuan ini. Jajaran ulama senior ini mewakili berbagai wilayah pesantren yang tersebar luas dari Sumatra hingga Nusantara bagian timur.
Daftar Perolehan Suara Sembilan Kiai Terpilih
Integrasi seluruh data penghitungan suara berjalan terbuka serta dapat dipantau oleh para peserta yang hadir di lokasi. Berikut adalah perincian angka dukungan sah untuk para kiai sepuh yang masuk dalam jajaran sembilan besar:
- KH. Nurul Huda Djazuli: 485 suara (10,3 persen)
- TGK. KH. Nuruzzahri Yahya: 477 suara (10,1 persen)
- AG. Dr. KH. Baharuddin HS: 392 suara (8,3 persen)
- KH. Miftachul Akhyar: 350 suara (7,4 persen)
- KH. Afifuddin Muhajir: 339 suara (7,2 persen)
- KH. Anwar Iskandar: 326 suara (6,9 persen)
- KH. Anwar Manshur: 303 suara (6,4 persen)
- Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj: 273 suara (5,8 persen)
- Dr. KH. Abun Bunyamin: 268 suara (5,7 persen)
Profil Anggota AHWA di Muktamar NU 2026
1. KH Nurul Huda Djazuli
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri ini akrab disapa Mbah Yai Da. Beliau merupakan putra ulama besar pendiri Pesantren Al-Falah, KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli.
Mbah Yai Da dikenal sangat konsisten memegang teguh tarekat ta’lim wa ta’allum atau tradisi belajar-mengajar. Dalam kancah keorganisasian, ulama yang mengampu pengajian rutin kitab Al-Hikam ini dipercaya menjabat sebagai Mustasyar PBNU.
2. Tgk H Nuruzzahri Yahya
Ulama ternama asal Bireuen, Aceh ini akrab dipanggil Waled NU. Beliau menimba ilmu agama di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesra serta Pondok Pesantren Darul Hadits Jombang.
Waled NU mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990 untuk membina anak-anak yatim. Beliau juga pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Aceh dan Ketua Tanfidziyah Wilayah NAD.
3. AGH Baharuddin HS
Ulama asal Sulawesi Selatan ini menjabat sebagai Mustasyar PBNU serta Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan. Beliau merupakan putra dari ulama terkemuka Bone, AGH Abduh Shafa.
Selain dikenal luas sebagai ahli kaligrafi Arab, Syekh Baharuddin aktif mengajar kitab kuning di berbagai forum. Beliau juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum MUI Kota Makassar sejak tahun 2015.
4. KH Miftachul Akhyar
Kiai Miftach lahir di Surabaya pada 1953 dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah. Genealogi keilmuannya tersambung ke berbagai pesantren besar seperti Tambakberas, Sidogiri, dan Lasem.
Kiprah organisasinya membentang dari posisi Rais Syuriyah PCNU Surabaya hingga Rais Aam PBNU. Rutinitas mingguan beliau diisi dengan mengampu pengajian kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari.
5. KH Afifuddin Muhajir
Lahir di Sampang pada 1955, Kiai Afifuddin merupakan pakar fikih dan ushul fikih terkemuka. Beliau mengabdi sebagai Wakil Pengasuh Bidang Keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Penerima gelar Doctor Honoris Causa dari UIN Walisongo ini aktif merumuskan pemikiran kebangsaan Islam. Di struktur PBNU, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam.
6. KH Anwar Iskandar
Ulama asal Banyuwangi kelahiran 1950 ini tumbuh dalam tradisi Pondok Pesantren Mambaul Ulum. Pendidikan tingginya diselesaikan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selain menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU, beliau dipercaya memimpin organisasi keagamaan nasional sebagai Ketua Umum MUI. Rekam jejak kepemimpinannya membentang dari IPNU, PMII, GP Ansor, hingga PWNU Jawa Timur.
7. KH M Anwar Manshur
Kiai Anwar Manshur merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sejak tahun 2014. Beliau lahir dari pasangan Kiai Manshur Pacul Gowang dan Nyai Salamah, putri pendiri Pesantren Lirboyo KH Abdul Karim.
Di ranah keorganisasian NU, beliau mengemban amanah sebagai Mustasyar PBNU. Selain itu, beliau dipercaya menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode berturut-turut.
8. KH Said Aqil Siroj
Mantan Ketua Umum PBNU dua periode (2010–2021) ini lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953. Beliau menempuh pendidikan doktoral bidang Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Ummul Qura, Makkah.
Kiprah pengabdiannya di PBNU telah dimulai sejak kepemimpinan Gus Dur sebagai Wakil Katib ‘Aam. Beliau juga mendirikan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Cipedak, Jakarta Selatan.
9. KH Abun Bunyamin
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta ini mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. Masa mudanya dihabiskan dengan menimba ilmu di Pesantren Cipasung asuhan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat.
Beliau dikenal sangat istiqamah mengamalkan ajaran para gurunya dalam membina pesantren. Karakter kepemimpinannya yang sejuk menjadikannya figur ulama penuntun bagi masyarakat Jawa Barat.
Terpilihnya jajaran 9 Anggota AHWA NU 2026 menegaskan bahwa arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama tetap berakar kuat pada kearifan dan sanad keilmuan para kiai sepuh. Musyawarah tertutup yang digelar oleh forum AHWA ini diharapkan mampu menghasilkan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang amanah serta membawa maslahat bagi keumatan dan kebangsaan.
Persaingan Ketat di Luar Jajaran Utama
Dukungan suara dari para muktamirin juga mengalir kepada puluhan ulama sepuh lain di luar sembilan nama utama. KH. Muhammad Wildan Salman hampir menembus barisan utama setelah menempati posisi ke-10 dengan raihan 250 suara.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menyusul pada peringkat ke-11 via perolehan 213 suara. Nama-nama ulama lain seperti KH. Ali Kholil mengantongi 144 suara dan TGH. Ma’arif Ma’mun mendapat 138 suara.
Tokoh nasional lain juga masuk dalam daftar usulan usai menerima dukungan dari utusan daerah. KH. Ahmad Musthofa Bisri atau Gus Mus memperoleh 96 suara, sedangkan Wakil Presiden RI Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin mencatatkan 48 suara.
Persebaran Suara dari Enam Zona Pemilihan
Proses rekapitulasi memperlihatkan bahwa pergerakan suara dari enam zona pemungutan terdistribusi secara merata. Zona keempat menyumbang jumlah suara sah terbanyak mencapai angka 936 suara.
Zona ketiga menyusul dengan sumbangan 855 suara, lalu zona kedua mencatatkan total 864 suara. Adapun zona kelima menghasilkan 718 suara, zona keenam 688 suara, serta zona pertama menyalurkan 642 suara.
Usai peritungan ini selesai, sembilan kiai sepuh bersiap menentukan sosok ulama yang akan menduduki posisi puncak kepemimpinan tertinggi PBNU.