IHSG Hari Ini Melonjak 5,65% Usai Tertekan Isu MSCI, Ini Alasan Bisa Menguat Lagi

IHSG melonjak 5,65 persen ke level 5.278,89 usai tertekan isu evaluasi MSCI dan rencana penambahan saham BUMN oleh Danantara.

Pasar saham Indonesia menunjukkan perlawanan sengit setelah sempat dihantam aksi jual besar-besaran pada sesi sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat hingga 5,65 persen dan mengakhiri perdagangan di level 5.278,89. Lonjakan tajam ini memberikan sinyal pemulihan awal usai pasar diterpa kekhawatiran akibat evaluasi status Indonesia pada indeks global MSCI.

Indeks saham domestik mencatatkan penambahan hingga 282,28 poin dalam kurun waktu satu hari perdagangan. Penguatan signifikan ini berhasil mengembalikan posisi indeks ke atas level psikologis 5.200 setelah sempat terperosok mendekati level 5.000.

Dinamika Transaksi Pasar Modal

Pergerakan indeks saham berlangsung sangat dinamis sejak awal pembukaan sesi pertama. IHSG sempat dibuka melemah di level 4.980,16 sebelum akhirnya merambat naik dengan fluktuasi yang cukup lebar hingga penutupan sesi kedua.

Aksi beli yang tebal terus mendorong laju IHSG melampaui level 5.200 secara perlahan. Indeks akhirnya mengakhiri perdagangan harian tepat di level tertingginya pada posisi 5.278,89.

Antusiasme para pelaku pasar tercermin dari tingginya aktivitas serta nilai transaksi di bursa. Volume perdagangan harian menembus 546,64 juta lot dengan total nilai transaksi mencapai Rp25,10 triliun.

Evaluasi MSCI Dan Isu Transparansi

Meskipun kenaikan hari ini memberikan napas lega, para pelaku pasar masih dibayangi oleh evaluasi ketat dari MSCI. Lembaga indeks global tersebut menyoroti masalah keterbukaan informasi kepemilikan saham serta adanya dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi.

MSCI saat ini sedang membuka konsultasi publik mengenai wacana pengubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Reklasifikasi tersebut berpotensi mengubah peta alokasi dana dari para manajer investasi global.

Sentimen ini sempat memicu tekanan hebat yang membuat IHSG anjlok 11,57 persen pada Jumat, 16 Oktober 2026. Tekanan berlanjut pada Senin berikutnya saat indeks kembali tergerus 3,64 persen ke posisi 4.996,61.

Rencana Kebijakan Baru BEI

Menanggapi sorotan tajam dari lembaga internasional, Bursa Efek Indonesia langsung menyiapkan deretan pembenahan aturan. Salah satu langkah yang direncanakan adalah kewajiban publikasi kepemilikan saham di atas 1 persen yang dilengkapi data hubungan afiliasi.

Selain itu, otoritas bursa berencana mengeluarkan saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration dari skema perhitungan IHSG. Langkah ini diambil untuk menjaga agar pergerakan indeks tidak mudah dimanipulasi oleh saham berkonsentrasi tinggi.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa emiten dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG. Pengeluaran saham ini hanya berlaku untuk perhitungan indeks dan tidak menghentikan aktivitas perdagangannya di bursa.

“Serta apa yang kami lakukan di Eropa yang merupakan upaya berkelanjutan dan di Amerika Utara,” ujar Herdman.

Langkah Danantara Dan Transforma BUMN

Di sisi lain, pasar juga merespons positif sinyal dari Danantara yang siap melakukan intervensi pasar. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan keterbukaannya untuk menambah porsi kepemilikan pada saham-saham BUMN berfundamental kuat.

Rencana aksi korporasi dari institusi berkapasitas besar ini dinilai mampu menopang pergerakan saham emiten pelat merah yang menjadi penopang utama IHSG. Danantara juga menyoroti pentingnya agenda demutualisasi bursa untuk memperkuat tata kelola pasar modal nasional.

“Pencarian terus-menerus terhadap pemain berdarah dan berwarisan Indonesia, yang akan menjadi kunci kesuksesan kami,” tambahnya.

Meskipun IHSG berhasil rebound dengan kenaikan 5,65 persen, para investor diimbau tetap cermat memantau kepastian regulasi dari BEI dan keputusan akhir dari MSCI.